Senin, 30 Oktober 2017

Muhasabatun Nafsi

“Innamal mu’minuuna ikhwatun faashlihu baina akhowaikum, wattaqullaha la’allakum turhamuun.”

"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah saudara. Sebab damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu.  Dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat(Q.S. Al-Hujurat; 49:10)"

Sore itu, saat menjelang magrib saya sempatkan membaca ayat Al-quran. Saat itu saya membaca surat Al-Hujurat. Kata demi kata dalam ayat yang terkandung di Alquran saya lantunkan, sembari sesekali saya baca terjemahannya untuk memahami makna yang terkandung di dalam ayat tersebut.

Saya begitu menikmati. Hingga tiba di ayat kesepuluh mata saya terhenti.  Ayat tersebut menampar hati saya, mengingatkan diri ini untuk muhasabah.

Ya, muhasabah. Saya harus melucuti pikiran dan juga hati ini yang tak seorangpun tahu apa isinya kecuali saya dan Dia.

Saya sadar, saya hanyalah manusia biasa. Dari sini, sayapun mulai mengupas satu persatu apa yang saya rasa dan ataupun saya pendam. Sore itu saya buka dan jujur kepada diri saya sendiri. Dan keganjalan demi keganjalanpun saya temukan.

Lihat! Dibalik balutan cantik ini, saya pernah menyimpan rasa iri terhadap seseorang, saya pernah menyimpan rasa tak suka terhadap seseorang, saya pernah merasa benci dengan hewan yang suka mengganggu atau mengotori rumah. Bahkan, saya pernah menyimpan rasa jengkel kepada suami dan anak.

“Duh Gusti... rasa apa ini?” keluh batinku. “Tidakkah bisa saya menyempurnakan batinku agar mulia dan cantik secantik paras ini?”

Dari ayat di atas, saya menarik kesimpulan bahwa persaudaraan adalah rahmat. Dan jika ada persaudaraan yang rusak, bagi saya hal utama yang merusak adalah karena prasangka buruk yang dimiliki dari masing-masing pribadi manusia. Maka untuk memperbaiki hubungan antar manusia, hal utama yang dibutuhkan adalah ketulusan hati, kemuliaan rasa, tanpa prasangka dan tanpa kebencian.

Dari sini,  kita akan memiliki bekal untuk bisa menjadi insan yang bersahabat. Kita juga bisa menjadi insan yang mau berdamai dengan diri kita sendiri dan orang lain,  sekalipun orang tersebut pernah membuat kita jengkel.

Jika rasa benci menjalari hati dan pikiran kita, maka marilah kita bermuhasabah terlebih dahulu. Dan mari kita berbenah diri hingga kita bisa melakukan kebaikan dan menebarkan kebaikan. Karena hal baik bisa dilakukan dari diri kita sendiri, meskipun itu kecil.

Sayapun berdoa, “Ampunilah segala dosa saya dan dosa keluarga saya, dan jauhkanlah hati kami dari prasangka buruk.”

Akhirnya saya mengakhiri muhasabah di penghujung sore ini. Dan tilawah inipun harus saya akhiri karena adzan magrib telah berkumandang. Saya beranjak meletakkan mushaf dan melangkan kaki menuju surau terdekat untuk melakukan sholat magrib berjamaah.

Kamis, 05 Oktober 2017

Rindu untuk Ayah

Ketika si kecil menggapai rindunya bersama Ayah.  Tak ada lagi yang lebih penting.  Semua inginnya dilalui bersama Ayah.

Tiga minggu. Waktu yang tak singkat juga tak lama.  Namun,  ketika Ayah tak kunjung datang,  tiga minggu serasa seabad.

"Bunda,  Ayi sedih...  Pingin ikut Ayah... " ucapnya di sore hari, dikala kami sedang bersantai.

"Lha,  Ayah masih kerja,  Mas.  Mau telpon Ayah?" tawarku pada si kecil.

"Mau.  Yang ada gambar Ayah ya,  Bun."

"Oke... " Aku beranjak mengambil smart phone kesayanganku.  Ku buka Wathsapp, lalu kucari kontak Ayah yang sudah dihafal oleh di kecil.

Kutekan icon video call. Kutunggu beberapa detik,  namun tiada jawaban.

" Belum diangkat,  Mas.  Mungkin Ayah masih sibuk." ucapku sambil mendekati mas Fachri yang menanti sambil bermain mobil kecil.

"Gak diangkat,  Bun?  Telpon lagi,  Bun... " pintanya.

Kutekan sekali lagi sambil melihat wajah imut mas Fachri yang sedang membaca bismillah.

"Diangkat,  Mas!" seruku.

Seketika hand phone berpindah ke tangan mungil mas Fachri.

"Ayah...  Ayi tadi sekolah.  Ayah lagi apa?" tanya mas Fachri.

"Ayah masih kerja ini,  Dik...  Ayi lagi apa?  Udah maem belum? " terdengar suara Ayah  dari seberang.

Mereka terhanyut dalam obrolan via video call,  dan aku masih menanti giliran untuk ngobrol dengan Ayah.  Namun,  terkadang aku tidak mendapatkannya.  Karena Ayah masih sibuk dengan tugasnya dan menyempatkan ber say hello dengan sang jagoan.

"Ayah cepet pulang ya... Da da...  Assalamualaikum... " terdengar suara mas Fachri menutup percakapan.

"Iya,  Dik...  Dua hari lagi Ayah pulang...  Waalaikumsalam..."

"Sudah,  Bun." mas Fachri menyodorkan Hand phone yang masih menyala.

"Belum dimatiin? Yah,  gak dimatiin?" tanyaku sambil beralih melihat layar berukuran 8,5 inc.

"Iya,  udah dulu ya Bun...  Dua hari lagi Ayah pulang... "

"Oke... " ucapku penuh kebahagiaan karena tak lama lagi Ayah pulang.

"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"

Obrolan pun terputus,  dan saya kembali bermain menemani mas Fachri yang sudah kembali sumringah.

Memamg,  terkadang rindu itu datang secara tiba-tiba.  Dan rindu itu tidak hanya kepada sepasang kekasih atau lawan jenis.  Rindu anak ke orang tua atau sebaliknya adalah rindu yang dahsyat.  Ada yang bisa menjelaskan dengan untaian kata?


Sabtu, 23 September 2017

Lotek dan Ngidam

Foto by. Google

Lotek dan Ngidam,  benarkah ada hubungannya? 
Saya kira ini kebetulan.  Kebetulan saya ingin makan lotek, dan inginnya pada waktu lewat tengah malam.  

Menurut saya,  tengah malam memang waktu yang pas untuk berangan.  Apalagi saat perut minta perhatian.  Entah mulai dari sedikit mules atau keroncongan yang berlebihan. 

Kebetulan,  dua hari yang lalu saat saya di Pti,  ingin rasanya beli lotek.  Tapi entah mengapa,  panas yang begitu terik menyurutkan langkah untuk mengunjungi warung lotek yang jaraknya lumayan jika dijangkau dari kantor Dinsos.  Walhasil,  saya pun mengurungkan niat dan mencari alternatif lain,  yaitu membeli nasi dan tempe penyet. 

Malam ini,  di tengah terjaganya saya dari tidur,  tiba-tiba nama lotek beserta atribut imajinasi suguhan lotek begitu memadati akam pikir saya. 

Iya,  lotek.  Saya pikir tidak usah jauh-jauh ke Jogja untuk menikmati lotek yang menggoyang lidah.  

Maka,  sayapun mencari alternatif lain.  Mencari resep lotek di google. Namun,  saya tidak berselera.  Inginnya satu,  beli lotek yang siap saji dan siap santap. Tapi santai,  semua ini bisa ditahan sampai waktu memungkinkan. 

Lalu,  apakah benar ini ada hubungannya dengan ngidam? 

Semua ibu hamil mungkin pernah mengalami yang namanya ngidam.  Dan ngidam itu datangnya secara tiba-tiba dan tak dinyana.  Adapun ngidam,  menurut saya kembali ke pribadi masing-masing si ibu hamil.  Apakah harus segera dituruti atau diajak bersahabat sampai kondisi benar-benar memungkinkan untuk menuruti keinginan. 

Saya kira,  kita bisa menjadi calon ibu atau ibu bijak dan cerdas. Jadi,  yuk cerdas hadapi ngidam.  
Semoga sehat Bunda dan calon debay. 

Senin, 11 September 2017

Sepeda


Pagi ini,  saya mengantar mas Fachri ke sekolah.  Biasanya diantar Uti,  tapi karena suatu hal,  kami harus gantian.

Kesempatan seperti ini,  sedikit langka bagi saya.  Jadi,  sejak dari rumah kamera Hp saya selalu on,  saya jepret di setiap gerak mas Fachri yang menurut saya menarik.

Salah satunya adalah parkir sepeda. Ternyata mas Fachri memilih untuk memarkirkan sepedanya di bawah pohon.  Sepeda itu diparkir dengan apiknya,  dan ditata agar tampak lurus.

Di PAUD ANGGREK pelemgede,  ada dua anak yang selalu naik sepeda saat berangkat dan pulang sekolah.  Mereka adalah mas Fachri dan mas Dika.  Mereka berdua kenal di PAUD. Dan sekarang mereka akrab,  bak sahabat sejati.  Namun,  saya belum tahu apakah di usia mas Fachri sudah mengenal konsep sahabat?

Sejauh pengamatan saya,  mas Fachri akan menganggap seseorang itu sebagai teman ketika mas Fachri sudah kenal dan nyaman dengan orang tersebut.

Dan mungkin,  begitulah sejatinya teman atau sahabat.  Mereka adalah orang yang membuat kita nyaman,  baik dalam keadaan senang ataupun sedih. Benarkah begitu?

Senin ini ternyata penuh kejutan.  Saya menemukan beberapa hal yang baru yang bisa diterima oleh mas Fachri.
 
1. Ini adalah kali pertama mas Fachri mau memakai baju berbahan katun dengan senang hati.  Iya,  seragam yang digunakan itu masih baru.  Belum pernah dicoba.  Kemaren dapet langsung saya cuci terus dipake hari senin.  Belum dipermak,  jadi masih kegedean.  Tapi,  tetep kece dipake...  😂😂😂

2. Sepatu hitam yang diberi nama Hachika.  Sepatu itu adalah pilihan mas Fachri sendiri. Sudah lama sepatu itu ditelantarkan dan gak dipakai, karena milih pakai sepatu merah,  si sepatu super.  Dan pagi ini,  karena memakai seragam,  ternyata pilihan sepatu jatuh pada si hitam,  Hachika.  Kata  mas Fachri,   "merah sama orange gak pas.  Baguse sama hitam... "😂😂😂

Jumat, 08 September 2017

Watermelon


Ada yang tau lagu  Watermelon? Saya yakin, banyak sahabat yang tahu tentang lagu tersebut.

Lagu Watermelon tidak asing. Banyak dinyanyikan, baik dikalangan anak-anak,  remaja,  pun hingga emak-emak. Sungguh,  lagu yang begitu populer.

Siang ini. Ditengah teriknya panas yang mengudara.  Saya pulang kerja dengan memilih jalan kaki.  Iya,  tidak apa-apa.  Sesekali.  Ingin merasakan kenikmatan gendong tas ransel dibawah teriknya sinar mentari.  Dan ternyata aku tidaklah setangguh pada masa kuliah. Dulu,  kampus - Kos saya jabani jalan kaki,  meski hari masih atau sudah terik.  Apalagi Kos - Mirota,  panas yang merekah pun akan terkalahkan. 😂😂😂

Siang ini saya cuma jalan sedikit.  Tidak ada 1KM,  dan itu di RT sebelah.  Kebetulan tadi Pertemuan Kelompok untuk ibu-ibu PKH Pelemgede.  Jadi, dari Kecamatan saya pulangkan motor dan  saya jalan kaki menuju lokasi.   Sungguh,  panasnya terasa luar biasa.

Namun,  mungkin panas ini tidaklah seberapa dibanding dengan panasnya diluar sana.  Dimana?  Di lokasi-lokasi yang terjadi musibah kebakaran,  pembakaran,  atau bahkan pembantaian.

Sesampai di rumah,  panas ini semakin terasa karena tidak ada sambutan ceria si kecil.  Usut punya usut,  ternyata Mas Fachri sedang main ke rumah mbak Esti. Dan,  hanya satu yang ingin kulakukan,  minum sebanyak-banyaknya di depan kulkas.

Selang beberapa menit, aku mendengar langkah kecil dan suara imutnya dari depan rumah.  Mas Fachri ternyata melantunkan lagu.

"Watermelon - watermelon,  banana-banana,  papaya - papaya,  tomato - tomato."

Seketika,  aku tepuk tangan girang dan menyapanya.

Apa yang teman-teman bayangkan ketika mendengar lagu tersebut?
Mungkin buah yang segar.... 🍉🍉🍉

Namun,  selain bayangan buah yang segar,  ternyata lagu tersebut membawa kenangan dan ingatan tersendiri 4 tahun silam,  saat diklat PKH di Balai Diklat Yogyakarta.  Ada apa gerangan dengan lagu tersebut?  Lagu yang unik dan sudah dimodifikasi beserta gerakan-gerakan yang luar biasa datangkan semangat dan gelak tawa.  Dulu,  saat diklat lagu itu dinyanyikan oleh mbak Anik,  Pendamping PKH Margorejo - Pati.

Ingatkah kalian,  sobat?

Kamis, 07 September 2017

Pulang

Menuju tengah malam. Ketika semua bersiap untuk istirahat,  handphone (HP) butut ibu berbunyi. HP butut itu ternyata ada di depan tv.  Dan kebetulan Pak Dhe masih npnton tv.

"angkat wae,  kak." suara itu terdengar dari dalam. Lalu,  terdengar suara kaki ibu melangkah.

Aku yang sudah di dalam kamar mendengar keributan yang terjadi di ruang tengah.

"Yawes,  ati-ati ya Ndhuk." terdengar suara ibu mengakhiri percakapan.

"Ternyata Hpnya sudah pindah tangan." pikirku.

Aku tak ingin ambil pusing dengan percakapan yang terjadi di ruang tengah.  Tapi,  hatiku menolak untuk tidak serta ambil pusing.  Gemes rasanya, ingin sekali aku memaki.  Tapi memaki siapa? Dan memaki iru meripakan hal yang tak patut.

Sudah berulang kali diingatkan, kalau perjalanan jauh usahakan jangan malam.  Kenapa?  Karena alangkah lebih baiknya ketika tengah malam si gadis berada di rumah.  Setuju?

Beberapa hari yang lalu, kamu mengirimkan pesan "Mbah,  besok malam aku kesana dengan temanku naik bis."

Semua senang dengan kabar itu,  termasuk eyang D yang jauh datang dari Kalimantan.  Maka,  dengan senang hati pesan itu dibalas. "Iya. Nek bisa ajak adikmu dan ojo bengi-bengi ya... "

Dan nyatanya?  Malam ini,  jam 22.00 kamu telpon mengabarkan kamu di terminal terboyo.  Tahukah kamu?  Kamu itu gadis. Ayolah, tanamkan rasa simpati dan empati untuk keluargamu. 

Kamis, 31 Agustus 2017

Hari Raya Idul Adha

Hari ini,  1 September 2017 yang bertepatan dengan hari raya Idul Adha.  
"Selamat Hari Raya Idul Adha". Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi pribadi yang memiliki keikhlasan dan kesabaran. 

Di hari raya Idul Adha ini,  banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran,  diantaranya adalah sebagai berikut. 

1. Ikhlas

2. Sabar

3. Kurban

4. Taqwa

5. Iman. 

Minggu, 27 Agustus 2017

Pencairan Bantuan PKH non Tunai

Yang ditunggu-tunggu datang.
Apa?
Uang.  Iya,  uang bantuan sosial.  Telah lama penerima PKH menantinya.
Dan kini,  bantuan itu telah tersalurkan.

Semoga uangnya bisa bermanfaat dan berkah.

Itu adalah harapan saya,  sebagai Pendamping. 

Kamis, 03 Agustus 2017

Kejutan hari ini ( Di sini Ada Do'a)




Siang ini terik bukan main.  Mau tidur gak bisa,  baca buku pun mas Fachri gak mau.  Akhirnya,  kami bermain di belakang.  Di tempat kecil yang terletak antara kandang sapi dan kamar mbah.

Di sini,  mas Fachri membuat kemah-kemahan dari sak warna biru yang biasanya digunakan mbah Uti memanaskan gabah hasil panen.

Ternyata di sini lumayan silir.  Aku memilih tiduran di bangku kecil tempat biasa mas Fachri tiduran.
Sedangkan mas Fachri bermain palu di ketuk-ketukkan di Pasir dan main selang kecil punya Akung. Katanya maen "cakruk".

Karena semilirnya angin di siang hari nan terik,  akupun mulai mengantuk. Namun,  ngantukku berangsur hilang ketika mendengar suara mas Fachri bernyanyi sambil menggerakkan tangan sesuai lagu yang dikumandangkan.

"Di tangan ini ada do'a
  Di mulut ini ada do'a
  Di dada ini ada do'a
  Mari kita berdo'a."




Selasa, 01 Agustus 2017

Ibu, Kemana Anakmu Terbang?

Dokumen.Pribadi

#rumah.akmali


“Nggak usah risau. mereka bukan anakmu.”  Enji menenangkanku. “Lagian, lihatlah ibu mereka pun tak menghiraukan. Mereka ibuk dengan dunianya sendiri.” tambahnya.

Aku semakin gelisah. Lagi-lagi temanku tak peduli. Enji seakan menutup mata dan telinga. Membiarkan anak-anak itu main lepas tanpa batas, dan juga tanpa pengawasan, layaknya pesawat landas tanpa pengemudi yang ahli.

“Enji, apakah ini benar dirimu? Apakah hatimu telah kau butakan?” aku tak percaya. “Dulu, kamu yang memberiku semangat dan mengajak mendirikan Rumah Belajar. Tapi sekarang... ada apa dengan dirimu, Enji?” aku mengguncang pundaknya. Enji diam, tanpa senyum. Seakan hatinya telah mati.

Aku menunggu jawaban Enji, lalu duduk di samping Enji. Dan, sekilas kulihat Enji mengusapkan ujung kerudungnya di pipinya.

“Kamu menangis?” tanyaku ragu.

Enji tersenyum, namun kecut yang kurasa. Enji semakin menjadi, tak kuasa menahan derasnya air mata yang mengalir.

“Aku kalah, Za.” Ungkapnya pelan. “anak-anak itu telah jauh berlari. Bahkan, sebagian besar dari orang tua mereka tak tahu sampai mana mereka berlari.” tambahnya.

“Apa yang kamu makud, Enji?” aku tak mengerti arah pembicaraan Enji.

“Lihatlah mereka. Mereka begitu bahagia memainkan Gadged berlayar mini. Ditambah adanya fasilitas wifi yang murah dari tetangga kita.” Enji terdiam.

“Ya, aku tahu. Dan itu adalah bagian tugas kita agar mereka bisa memainkan gadged baru itu dengan senang dan tetap terkontrol.” Aku menenangkan. Lebih tepatnya menenangkan kerisauan yang berkecamuk di dalam diriku.

Kami menyadari hal ini sudah lama. Game atau aplikasi yang ditawarkan di gadged begitu menyita perhatian anak-anak.  Dan kini. Barisan buku yang ada di Rumah Belajar kami bagai dicampakkan. Buku-buku itu tertata rapi, tak ada lagi tangan kecil yang menjamahnya. Tangan kecil-kecil itu telah lincah berselancar dalam dunia maya. Yang entah sampai mana mereka bermain. Kami tak ada yang tahu, kecuali mereka dan teman-temannya. "Ah,  entah sampai kapan ini akan berlangsung." keluhku.

“Bisakah?” Enji ragu.

“Aku yakin bisa. Tapi pasti tak mudah.” Ucapku menepis keraguan yang menjalar dalam jiwa.

“Lalu, bagaimana dengan orang tua mereka?” tanya Enji seakan mengujiku.

“Kita semua tahu. Hidup di Desa itu nano-nano. Semua ada. Dan pasti ada orang tua yang tidak tahu, entah tidak tahu karena benar-benar tidak tahu, ada orang tua yang tidak tahu tapi peduli sehingga mempercayakan agar anaknya dikontrol oleh saudaranya yang tahu, dan juga ada orang tua yang tahu serta peduli.” Ucapku.

“Ya. Dan kita termauk orang yang peduli. Meskipun mereka bukan anak kita.” Enji mulai berbinar.
“Kita bisa memulainya kembali, Za.” Imbuhnya.

Aku tersenyum. Setelah sekian lama aku dan Enji terlena dengan melihat aktivitas anak-anak itu, kini kami akan kembali bangkit.

“Meski susah, kita harus berusaha.” Enji mulai bersemangat. “Mungkin bisa kita mulai dengan duduk di tengah-tengah mereka dengan membawa gadged kita ini.” Celotehnya sambil menunjukkan gadged keluaran terbaru. “Lalu, kita bisa mulai main ke rumah mereka untuk sekedar mengobrol.” Tambahnya.

Aku diam mendengarkan rencana Enji yang luar biasa. Dan menikmati liarnya imajinaiku serta membiarkan otak di dalam kepalaku mulai menyusun mencari waktu yang tepat untuk bermain ke rumah anak-anak itu menemui orang tua mereka. Tahukah kalian? Orang tua mereka berbeda-beda. Ada yang tua dan juga ada yang muda. Ada yang full di rumah, dan ada juga yang mocok atau ngarit mencari rumput untuk ternaknya di siang hari.

#############

Tugas ini untuk memenuhi tugas ODOP Kelas Fiksi.  Tuga kali ini adalah menemukan penulis yang menginspirasi sehingga saya amapi memiliki keinginan untuk menjadi penulis. Jujur, penulis itu menginspirai semua, baik penulis yang sepak terjangnya sudah go internasional ataupun masih di ini saja.

Saat ini, saya sedang hobi membaca buku cerita anak. Banyak alasan sebenarnya, salah satunya adalah karena saya memiliki anak. Hal lain adalah sebagai baham untuk saya bercerita kepada anak, baik itu anak saya sendiri ataupun anak tetangga. Haha
Satu penulis cerita anak yang ingin saya sebut sebagai penginpirasi saya sehingga saya ingin bisa menulis cerita anak adalah Bunda Ari Nilandari. Namun sayang,  sampai sekarang saya masih belum bisa mengadopsi gaya bercerita Bunda Ari yang asik dan enak itu.

Obat Bagi Penulis

#rumah.akmali


"kamu tau? Writers Block (WB) itu kayak demam. Tiba-tiba datang." Ucap Bina tiba-tiba.

Aku tertawa dan gatal untuk berkomentar, "Sayangnya, gak ada obat untuk Writers Block."

"Benarkah?" Bina menyela. Lalu duduk di sampingku sambil menyuguhkan kopi hangat.

"Ada apa denganmu?" aku mengambil kopi hitam yang masih mengepul. Begitu menggoda. Lalu aku menyeruputnya.

"Entahlah. Aku merasa tak semangat. Melihat layar saja rasanya eneg. Dan itu membuat pikiranku beku."

"lalu, kamu menyebut dirimu terkena serangan WB?" aku tak yakin dengan pertanyaanku. Yang kutahu, Bina adalah mahasiswa produktif. Setiap hari Bina menulis, entah di Blog pribadi atau di web lainnya. Dan aku tak yakin jika hari ini Bina belum menulis.

"Ya." Jawabnya singkat.

Diam, kami menikmati kopi yang mulai mendingin.

"WB itu bisa menyerang siapa saja, Kun." Bina menjelaskan.

"Tapi kan kamu sudah menulis lama. Bahkan, kamu akan menerbitkan buku." Aku masih tak yakin.

"Bahkan penulis yang sudah ternama sekalipun bisa terkena WB jika tidak segera ditanggulangi. Dan kamu tahu?  hanya diri sendiri yang bisa mengobati." Bina beranjak dari tempat duduk, lalu mengambil buku yang berserak di lantai.
Sepertinya,  Bina ingin menghilangkan rasa malasnya itu.

Bayangan masa laluku mulai berkelebat. Dulu aku sering menulis. Bahkan, sesekali aku mengirimkan artikel ke sebuah koran lokal. Tapi sekarang aku tak lagi melakukannya. Alasannya? Entahlah, aku terlalu malu untuk memulai. Atau aku terlalu malas. Dan,  Bina selalu mengingatkanku untuk kembali menulis. Bahkan, Bina memberi buku-buku yang kusukai. Tapi, hal itu tak membuahkan hasil.

"Bina, ayolah menulis. Aku akan menemanimu untuk menulis. Dan kita akan kembali bersaing seperti sedia kala saat kita masih duduk di bangku SMA." Aku mendekati Bina yang sedang membolak-balikkan halaman buku tanpa minat.

"Are you sure?" Bina terkejut dan terpancar  binar bahagia di antara ketidakyainan. Tapi,  Bina tetaplah Bina.  Bina akan berlagak keinggrisan jika terlalu senang.

"Ya, karena kita adalah penulis. Dan kita adalah dokter yang bisa menyembuhkan wabah WB. Baik WB itu masih ringan atau sudah akut menyerang kita." ucapku yakin.  Tak terasa,  mataku mulai mengembun.

Kami berpelukan. Sinar kebahagian dan semangat menulis kembali menyusup dalam relung hatiku.

Senin, 24 Juli 2017

Wanita dan Asa

Diam. Aku mulai memperhatikan sekitar. Menikmati sore yang indah tanpa ditemani secangkir kopi hitam. Aku di sini, di bawah rindangnya pohon yang tumbuh subur di belakang rumah. menikmati keindahan sore hari. Mengawasi aktivitas seorang janda tua bersama anak lelaki yang telah berumur.

Aku mulai gerah. Ingin sekali menyeret lelaki bertubuh ringkih itu keluar dari rumah kecilnya. Membuang si lelaki berkulit putih pucat itu ke pulau yang tak terjamah manusia. “Tapi, apa urusanku?” batinku mulai berkecamuk, ruang kepalaku dipenuhi oleh cacian tanpa henti. “Aku harus  mengenyahkan si lelaki itu.” ucapku meyakinkan pada diri sendiri. Aku bergegas, melempar sandal  hijau dan membiarkan kaki dekilku bertelanjang.

“Hei Ndhuk, mau kemana?” terdengar teriakan Emak dari balik dinding bambu.

“Sial! Emak selalu mengawasiku.” gerutuku. Aku mengurungkan niat. Kuambil kembali sandal, lalu pura-pura duduk sambil memainkan gundukan tanah di bawah kursi yang sudah usang. Aku tersenyum kepada Emak yang sudah melongokkan kepala di balik pintu bambu.

Lalu tenang. Emak menghembuskan nafas kelegaan, dan kembali khusuk dengan penggorengan. Kuintip Emak dari celah dinding bambu yang reot termakan usia. Emak begitu lincah memasukkan biji kopi yang dicampur beras dan potongan kelapa ke dalam wajan hitamnya. Tak selang beberapa lama, Emak meniup cerobong ke dalam tungku agar api tetap menyala. Dan aku bisa menebak bahwa Emak akan mengusap keringat di pelipisnya lalu duduk di samping tungku sambil menggoreng kopi. “Tepat!” desisku.

Sunyi.  Aku mulai bosan dengan rutinitas ini. Diam-diam, aku melangkahkan kaki keluar rumah. Tanpa suara, aku menyebrang menuju rumah kecil yang dihuni oleh Janda tua dan anak lelaki yang telah berumur. Aku terseok, sesekali aku terjatuh dalam kubangan jalan yang terjal. Dalam batinku, aku hanya ingin ke rumah janda tua, menemui lelaki yang telah berumur.

“Hei, ngapain kamu kesini? Pulanglah. Jika tidak, kamu pasti akan diseret paksa oleh Emakmu.” Lelaki berumur itu memutar roda kursi yang diduduki. Dia keluar rumah, entah untuk menyambut kedatanganku atau untuk mengusirku.

“Pulanglah, Tina. Jangan kesini. Aku tak ingin kau disiksa perempuan tua itu.” Dia mengingatkanku sambil menunjuk rumahku. Disana, terlihat Emak sudah berdiri dengan berkacak pinggang di ambang pintu rumah.

Tiba-tiba mataku memanas. Hatiku bagai teremas. Semua kejadian lima belas tahun silam terekam kembali dalam kepala. Aku ingin meredam semua, tapi nyatanya aku tak sanggup. Semua cerita bermunculan, semua kisah saling berebut untuk mencuat. Dan aku limbung di depan rumah dia. Hanya air mata yang berebut melewati pipi keriputku.

“Kamu tak pernah mendengarkanku, Tina.” Tiba-tiba Emak sudah mendekapku dari belakang. Emak menuntunku untuk pulang ke rumah kami yang sudah reot. Akupun mengikuti langkah Emak.

Sayup-sayup ku dengar teriakan lelaki itu dari arah belakang. “Maafkan aku, Tina.”

Aku menoleh ke belakang. Melepas tangan Emak yang menggandengku. Kubiarkan air mata ini turun dengan derasnya. Aku hanya berdiri mematung. Tersenyum dan mengabaikan ajakan Emak untuk pulang. Kali ini, aku menjadi lebih tegar, membiarkan kisah itu berkelebat dalam kepala.

Kutatap dia yang tersenyum di atas kursi roda yang menjadi tempatnya sejak empat belas tahun yang lalu karena kecelakaan. Dia melambaikan tangan agar aku maju mendekat. Tapi aku tak bergeming. Karena Emak mendekapku dengan erat, dan cerita masa lalu menari dengan elok. Perlahan, si Janda tua mendorong kursi roda itu untuk mendekatiku yang masih juga bergeming.

Dan kali ini, Emak membiarkan ku berdiri sendiri. Menemaniku dari belakang. Seakan memberiku kesempatan untuk meluruskan masalah antara aku dan lelaki itu. Masalah yang tak pernah terungkap sejak lima bela tahun yang lalu.

“Maafkan aku, Tina. Aku tak pernah selingkuh. Wanita itu hanya memfitnah agar keluarga kita hancur. Tragisnya,  orang tua kita sudah termakan omongan wanita itu. Dan kamu?” dia, si lelaki berumur membuka suara. Dan inilah pertama kali kami berhadapan secara langsung setelah kejadian lima belas tahun itu.

Aku tahu, Emak terlalu menyayangiku. Sehingga saat mendengar kabar tentang perselingkuhan mas Bimo, si lelaki berumur,  Emak langsung menyeretku pulang ke rumah reotnya. Emak tak pernah memberi kesempatan untuk kami bertemu walau sekejap. Sehingga tak pernah ada titik terang tentang kabar yang di desuskan oleh si wanita itu.

Dan kini, kami dapatkan kesempatan itu.  Untuk bertemu kembali,  meski hanya sekejap .  Aku tahu Emak menyesal telah mengurungku selama belasan tahun di rumah reot hingga rasa dan asakupun mati terkungkung.

Rabu, 19 Juli 2017

Jangan Salahkan Dia

"Dia selalu menjerumuskanku!! Merusak hariku,  menelantarkan rencana, dan juga agenda baruku." aku menjerit,  lalu melempar tas hello kitty kesayanganku begitu saja. Aku mondar-mandir di kamar pengap berukuran 3x4 m hingga kutemukan wajahku terpantul pada cermin kusam.  Kutatap wajahku lekat-lekat,  hingga tanpa sadar aku menamparnya.

"Kenapa kamu selalu menuruti bisikannya? Bodoh! " aku melotot pada wajah polos itu. Kejadian tadi pagi terulang dengan jelas dalam ingatan.  Saat mendengar suara adzan subuh,  aku tak segera bangun, tapi semakin terlelap dan membenamkan wajah ke dalam empuknya kapas yang terbungkus indah dalam balutan kain berwarna hijau.
 
"Lihat!  Gara-gara dia,  kamu ketinggalan kelas.  Dan terakhir,  kamu tidak diperbolehkan masuk kelas mengikuti pelajaran." gerutuku, masih kesal dengan wajah yang balik memelototiku.

"Key,  kok sudah pulang?  Bukannya hari ini ada kuliah Sintaksis ya?" tanya Rena teman satu kosku.

"Aku gak dibolehin masuk kelas sama Pak Haman,  Ren." aku geram.  Lalu mendekati Rena yang duduk di bibir tempat tidurku.

"Jangan sentuh dia!" ucapku tiba-tiba kepada Rena yang mendekap si ijo.
 
"Kenapa?" Rena kaget,  lalu meletakkan si ijo ke tempat semula.

"Semua ini gara-gara dia!" aku menatap nanar si ijo.

"What?" Rena tergelak. "Kamu yakin menyalahkan si Ijo ini?" tanya Rena meyakinkan sambil menggendong si Ijo.

"Lihat ini,  lihat!  Harusnya kamu berterimakasih pada si Ijo. Dia itu barang mati yang baik hati.  Tak pernah protes mau diperlakukan si empunya sebagai apa.  Kamu lupa?  Siapa yang menemani dan mendengarkan celotehmu di malam hari? Siapa yang mau menampung air mata dan ingus setelah kamu puas mengadu kepada Allah di malam hari?  Siapa yang siap menopang kepala baumu dikala kamu terlelap? Ijo!  Bukan yang lain!" Rena melemparkan si Ijo ke wajahku,  lalu meninggalkan aku yang mencoba menangkap si Ijo.

Akupun mulai tersadar,  tak seharusnya aku menyalahkan Si Ijo yang telah menjadi teman tidur setiaku.

Dokumen pribadi

Senin, 19 Juni 2017

Rasa ing Dalu

Wonten ing tengahing dalu.
Angin sumilir,  atis kerahos wonten ing sikil kang kangge lumaku.

Wonten ing tengahing dalu.
Suara jangkrik padha saut-sinaut,
Dadosake musik kang alami.

Tanpa senar,  tanpa gitar
Tanpa balungan,  tanpa kenong
Tanpa piano,  ugi tanpa bass.

Gusti, menika lah sejatining jagad.
Kang kerasa tenang,
Ugi saged dadosake mesra antaraning kawula lan Gusti.



Jumat, 21 April 2017

Kehebatan Wanita Berkubang Tanah

"Mereka bukan wanita hebat.  Mereka hanya wanita lemah yang bersimpuh tanah dan juga kotoran." Rina mulai bercerita.  "Mereka hanya menengadahkan tangan ke suami.  Gak pernah bisa mentisihkan uang barang sepersen untuk ditabung." Rina menambahi.  Wajahnya begitu muram,  seakan jijik mengingat pengalamannya.

Satu bulan yang lalu aku dan Rina mengikuti penelitian yang diadakan oleh jurusan Antropologi di Kabupaten Pati.  Tepatnya di kecamatan Pucakwangi.  Tema yang diangkat tentang kebudayaan dan dibagi menjadi beberapa judul.

Kebetulan Rina berfokus dengan judul tentang mata pencaharian warga setempat.  Sedangkan aku berfokus dengan judul pemanfaatan waktu luang. Kami ditempatkan di desa Lumbungmas.  Penelitian ini memberi pengalaman yang luar biasa untuk kami, terlebih bagi Rina yang nota benenya adalah orang kota dan anak dari pasangan pegawai negeri sipil.

Kecamatan Pucakwangi berada di pinggiran Pati.  Berbatasan dengan kabupaten Blora.  Para penduduk disana kebanyakan memiliki mata pencaharian sebagai petani.  Sebagian adalah tukang dan atau pekerja serabutan.  Sebagian kecil adalah berwiraswasta dan sebagai pegawai negeri sipil (PNS).

Para wanita di kecamatan Pucakwangi banyak yang mendedikasikan dirinya sebagai ibu rumah tangga.  Jika ada sebagian dari mereka yang bekerja,  hal tersebut merupakan pilihan mereka masing-masing dengan berbagai alasan.

"Kenapa kamu berkata begitu,  Rin?  Tidak adakah pengalaman lain yang melekat di ingatanmu"? Hatiku tersengat dengan ucapan Rina.  Aku,  meski hanya satu bulan tinggal di kecamatan Pucakwangi, aku tidak setuju dengan pendapat Rina.

Bagaimana tidak?  Mereka,  para perempuan yang mendedikasikan sebagai ibu rumah tangga ternyata tugasnya begitu bejibun.

"Apakah salah,  Nis?" Rina heran.  "Apakah kamu tidak melihat.  Para perempuan itu membersihkan kandang sapi, kandang kambing,  bahkan ada pula sebagian mereka yang merumput dan menanam padi saat musim hujan." Rina menambahkan.

"Ya.  Apakah salah"? tanyaku menyelidik.

"Tidak salah.  Tapi kan kotor. " suara Rina dipelankan.

" Kotor katamu.  Tapi kenapa kamu bilang mereka tidak hebat"? Tanyaku meninggi.  Jelas saja aku tidak terima.  Bagiku, mereka itu wanita hebat.  Kebanyakan dari saudaraku juga ibu rumah tangga. Mereka tidak sungkan melakukan pekerjaan berat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanah,  juga hewan.  Karena semua itu adalah bagian dari kehidupan dan sebagai mata pencaharian yang mampu mengantarkan anak cucu mereka untuk selalu menjadi yang lebih baik.

Rina diam
" aku tidak ingin seperti mereka. " Rina tak bisa menjawab pertanyaanku.

" Ya,  itu hakmu mau menjadi dan seperti apa. Tapi,  kamu tidak berhak mencela pekerjaan orang lain. Bagaimanpun,  tanpa mereka di dunia ini tak akan ada nasi enak. Tak akan ada anak petani yang menjadi pegawai,  DPR,  atau bahkan menteri. " aku mencari kata-kata yang bagus agar Rina bisa sadar bahwa mereka wanita hebat.

Aku teringat saat penelitian kemaren.  Aku berkenalan dengan seorang ibu muda yang usianya tak beda jauh denganku.  Ya,  usianya 22 tahun.  Namanya Sri.  Anaknya umur dua tahun.  Dia adalah seorang ibu rumah tangga.  Tugasnya sangat luar biasa banyak.  Dari bangun tidur hingga kembali tidur. Mencuci baju,  menyetrika,  memasak,  membereskan rumah,  merawat anak, mendidik anak,  dan merawat orangtuanya yang sakit, Semua dia lakukan sendiri,  tanpa ada libur. Bahkan,  jika musim hujan datang dia mocok tandur demi mendapat tambahan penghasilan. Suaminya merantau ke Kalimantan, kerja di bangunan.  Selain itu,  Mbak Sri juga memiliki beberapa ekor kambing.  Jadi,  di pagi dan sore hari mbak Sri membersihkan kandamg kambing dan mencari daunan untuk makanan kambing di sore hari.

Ah,  betapa luar biasanya mbak Sri dan perempuan desa yang lain. Bagaimana aku bisa mengatakan bahwa mereka tidak hebat?  Mereka adalah wanita hebat dan luar biasa. Dan seperti kata Ibu yang rumahnya saya tempati saat penelitian,   istri pak Kepala desa "bahwa sejatinya wanita hebat adalah mereka yang bisa melaksanakan tugasnya dengan penuh keikhlasan dan mengantarkan anak-anaknya untuk menyongsong masa depan dengan penuh keyakinan dan takwa kepada Illahi."

"Oiya,  hari ini tanggal 21 April.  Hari Kartini nih, Nis.  Bagaimana kalau kita ketempat penelitian kita? Mereka pasti punya banyak cerita untuk kita. " Rina mengusulkan.

"Wah,  ide bagus.  Kita ajak yang lain juga yuk. " aku mengiyakan.

Kami beranjak dari kantin yang berada di Fakultasku. Kami bergandeng tangan dalam diam.  Menyelami pikiran masing-masing tentang sejatinya wanita yang hebat.



Pelemgede,  210417

Rabu, 19 April 2017

Kembali, Jumpa dengan Dia

Aku mulai menyibukkan diri dengan segambreng aktivitas.  Dari mengajar anak-anak kecil mengaji dan memulai menebar virus baca.  Apa coba menebar virus baca.  Sebenarnya aku hanya mengundang anak tetang untuk main ke rumah.  Kuajak mereka membaca, bercerita,  atau sesekali membedah tulisan dan belajar membuat puisi.

Hal tersebut sangat menyenangkan.  Sehingga bisa mengalihkan pikiranku yang tersesat tentang cinta.  Ah,  lupakan.

Hal lain,  Aku juga menikmati statusku sebagai jomblo sholihah.  Tak kuhiraukan bisik-bisik tetangga yang mulai menyebarkan julukan untukku sebagai gadis tua.  Masa bodoh.  Usiaku juga baru 22 tahun.

Siang itu,  sekitar satu minggu yang lalu aku diajak Bapak ke acara pernikahan anak temannya.  Seperti biasa aku heboh untuk mempersiapkan baju dan semua perlengkapan yang akan kupakai.  Tapi sayangnya kata Emak aku tetep aja begini,  gak ada cantik-cantiknya meski segala sesuatu sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.

Tapi,  lagi dan lagi aku tak perduli.  Perpaduan gaun bunga-bunga dengan hijab berwarna biru muda kukira cukup membuatku tampil menawan.

Siang itu spesial.  Aku bersama Bapak.  Bak putri yang diiring oleh bapak untuk memilih pangeran berkuda. Aku diajak Bapak berkeliling menemui teman-teman kerja dan juga beberapa teman alumni SMA.

Saat aku asik mengobrol dengan anak dari teman alumni SMA bapak, aku mendengar ada yang menyapa.

"Assalamualaikum. Kamu....  Weni,  kan?" tanyanya tak yakin.

Aku mendongak.  Seketika darahku membeku dan wajahku pucat pasi.

"Hey,  kamu kenapa? " tanya Reni anak teman SMA bapak sambil menepuk bahuku.

"Waalaikumsalam... Masya Allah..... " aku tak kuasa menahan gemuruh dada ini.  Tak kupedulikan dia yang masih mlongo terheran penuh tanda tanya. Aku lari terbirit. Mencari cermin atau apapun yang bisa kuajak bicara.

Beruntung ada kamar mandi di samping Balai tempat diadakannya resepsi.
"Duh Gusti...  Mimpi apa aku semalam.  Setelah sebulan lebih aku berusaha menepis pikiranku tentang dia.  Kini dia ada di depanku.  Dan Masya Allah.....  Lima tahun lebih lamanya,  Dan dia masih mengenaliku.  Apa ini pertanda..... " Aku mulai berbinar kege-eran.  Malu-malu kupandangi wajah penuh kebahagiaan yang terpantul dicermin. Aku segera merapikan hijab yang sebenarnya masih rapi.  Lalu kembali kekerumunan tamu yang hadir.

Celingkan kucari dia dan Reni.  "Dimana mereka? " batinku.  Dan aku mulai menyesali kebodohanku yang telah menyia-nyiakan kesempatan emas.  Seharusnya aku tak meninggalkan dia begitu saja.  Ah,  bodohnya aku.

"Wen,  kamu kemana saja?" Reni menepuk pundakku keras.

"Ya Allah,  bikin kaget saja sih kamu".

"Lha kamu.  Dari tadi dipanggil, malah keenakan ngelamun.  Mikir apa to? "

"Gak ada.  Dimana dia?" wajahku memerah.

"Dia siapa? " Reni terheran.

Segera kutarik tangannya. Kuajak dia mendekat ke Bapak.  Ternyata bapak masih asik ngobrol dengan sahabat lamanya.  Dan diantara mereka itu....  Langkahku terhenti.

"kenapa? Ayo dari tadi ditungguin bapak dan itu cowok".

"Aku gak mau kesana,  Ren. "
"Kenapa?"

Aku terdiam, dan Reni tetap menarikku.

"Wen,  sini.  Ini lho Fuad.  Gak nyangka ya bisa ketemu disini. Kamu kan dulu sering bilang pingin ketemu Fuad lagi. " Bapak tertawa bahagia seakan semua biasa saja.

Aku hanya terdiam,  duduk diantara mereka dan ratusan tamu yang sedang menikmati suguhan.
"Lha kok cuma diam.  Katanya kalau ketemu mau bilang terimakasih.  Karena kamu dia jadi rajin lho,  Fuad.  Semangat nuntut ilmunya jadi tinggi. " Bapak cerita dengan antusias.

"Masak to,  Pak? Weni kan memang rajin dari dulu". Fuad berkilah.

"Alah,  kamu gak tau.  Kapan-kapan datanglah ke kampung.  Banyak yang rindu kamu.  Kamu itu meninggalkan banyak kesan di hati orang kampung. "

Aku hanya diam. Reni dan bapaknya sudah pamit duluan.  Dan Bapak kembali duduk menikmati suguhan sambil mendengarkan ceramah dari kiai.  Ternyata acara resepsi sudah diujung acara.
 "Duh,  aku harus bisa ngobrol dengan dia.  Eh, kak Fuad maksudnya." aku masih diam dalam pikir.

"Wen,  kamu sekarang berubah ya. Gimana kabarnya? " tanya kak Fuad penuh selidik.
"Alhamdulillah baik,  kak. Kak Fuad gimana? " jawabku malu.
"seperti yang kamu lihat,  aku juga baik. "

Aku masih penasaran dan ingin banyak bertanya "Apakah kak Fuad sudah menikah?  Kak Fuad kok bisa disini,  bukannya kak Fuad asli Palembang? Kak Fuad kenapa gak pernah main ke Kampung?  Kak Fuad sekarang kerja dimana?". Tapi sayang semua pertanyaan itu tersekat dalam pikir dan tercekat dalam tenggorokan.

Tak terasa,  acara telah usai.  Kamipun harus pulang ke rumah masing-masing.  Tak banyak yang bisa kuobrolkan dengan kak Fuad. Tapi aku bahagia karena di akhir acara aku bertukar nomor telepon.

"horeeee Alhamdulillah... ". Sorakku dalam hati.

Pelemgede,  140417

Apa Kabar Hari Ini?

Ternyata aku masih memikirkan cinta.  Kalau memang benar kata emak bahwa cinta itu realita.  Nyatanya aku tidak lagi mendapatkan keseimbangan antara keduanya. Ditambah kata mbak Rumisih bahwa cinta tidak untuk dipikir,  tapi harus dijalani.

Ah,  apapula ini.  Dan nyatanya aku masih memikirkannya. Memikirkan dia yang sekarang entah ada di mana.  Iya,  dia.  Yang dulu pernah mengisi hariku.

Jangan tanya bagaimana dia.  Dia tak sesempurna artis.  Perawakannya sedang tapi pembawaannya luar biasa bersahaja.  Dia mampu membuat aku menjadi wanita cantik.  Paling tidak ini menurutku.

Jika kalian tidak percaya,  maka perhatikan contoh dibawah ini:
Aku adalah wanita biasa.  Cantik sedikit,  manis tak lagi mau melekat.  Kelebihannya aku tak berjerawat dan wajahku lebih halus karena air wudhu.  Aku tak ubahnya wanita pawon.  Tak pernah tau dunia luar.  Bersolekpun aku tak mengenalnya.  Apalagi baju.  Seadanya baju di lemari akan kupakai.  Rok hijau kaos merah dan krudung orange.  Ya,  itu perpaduan yang indah menurutku.

Dulu,  aku jarang-jarang ke Suaru. Alih-alih mendampingi anak-anak mengaji.  Mendengar adzan saja aku pura-pura sibuk dengan tetek bengek yang sebenarnya tidak penting.

Tapi,  setelah mengenal dia dunia serasa berbalik.

Saat itu dia datang ke Kampung Belala, yang merupakan kampung tempat tinggalku dalam rangka kuliah Kerja Nyata (KKN). dia merupakan salah satu anggota yang memiliki ide briliant. Tindak tanduknya sering digunakan contoh bagi orang tua disini. Lebih-lebih orangtuaku.  Sepertinya mereka sangat mengagumi dia.

Orang tuaku sering bilang "mbok kamu tu kayak Kak Cemeti itu lho.  Rajin,  sopan,  sabar dengan anak-anak dan selalu datang awal saat adzan berkumandang. "

Saat itu aku mulai mengintip dia.  Malu-malu aku mulai rajin ke Surau.  Dan hal itu menjadi kesempatan emas bagiku.  Aku mulai mengenalnya.  Dan banyak pengetahuan yang kudapat darinya.

Tidak lama aku mengenalnya. Tapi efek perkenalanku dengan dia sangat luar biasa.  Keinginanku untuk menimba ilmu mulai mengembang.

Dan aku bertekad setelah lulus MA aku mau mondok.

Sekarang,  lima tahun telah berlalu. Aku kembali hidup di kampung untuk mengamalkan ilmu. Dan anehnya,  dia yang kukenal sesingkat membalik telapak tangan itu kembali menghantui pikir.  Ada apa ini?  Dan parahnya,  aku menganggap dia sudah lama mengisi hariku.  Padahal kenal tiga bulan saja tidak genap.

Ah,  bagaimanapun dan siapapun dia sekarang,  aku ingin bertanya "apa kabarmu hari ini?"


Pelemgede,  130417

CINTA

"Mbak,  kamu tau cinta itu apa?"
" gak tau!! "
"kamu mah gitu.  Gak pernah tau apa itu cinta".
"yakali..  Kamu kira aku ini pujangga yang mesti tau cinta. Aku mah cukup seneng jadi bakul coklat,  yang tiap valentin para remaja beli coklat di sini.  Katanya buat pacarnya.  Tanda cinta gitu. Atau,  ada lagi.  Biasanya mereka beli coklat buat kado ulang tahu.  Lagi dan lagi,  katanya buat pacarnya.  Tanda cinta lagi. " bergaya ala pujangga.

Aku terbelalak mendengar jawaban Rumisih tetanggaku itu.  Ya,  Rumisih adalah pengusaha coklat yang beken seantero kampung.  Coklatnya lucu-lucu dan lumer kalo dimakan.  Tak heran banyak yang pesan.  Apalagi di hari-hari spesial layaknya yang diberitakan di tipi-tipi.

Tapi masak ya coklat. Coklat dan cinta.  Benarkah berhubungan?

Kalo kata guru mtsku, cinta adalah kejernihan jiwa.  Jika kamu melakukan sesuatu,  kamu ikhlas melakukannya.  Tanpa pamrih,  pun tanpa imbalan.  Ya,  semua itu karena cinta.

Tapi kalo kata emak,  cinta itu realita.  Bukan hanya untuk nafsu,  juga bukan karena uang.  Kalo yang ini sedikit rumit. Kenapa?  Saya sering melihat di tipi-tipi, berita-berita yang menyakitkan atau pembunuhan seringkali disebabkan uang.  Padahal mereka berumah tangga.  Apa itu berarti mereka tidak memiliki cinta?

Itulah kenapa saya bilang kalo kata Emak ini sedikit rumit. Ya,  rumit.  Karena kita harus bisa menyeimbangkan antara cinta dan juga realita yang ada. Tidak boleh semena-mena memperlakukan cinta.  Jadi,  ada atau tiada uang maka cinta harus dirawat dan dipupuk.  Karena bisa jadi dengan adanya cinta yang terawat maka semua akan mengikuti.
Ah,  aku ini malah ngelantur.

" Mbak Rum,  aku pulang dulu" segera aku beranjak dari hadapannya.
"eehhhh..  Lha iki pie coklatmu? "
"buat mbak Rumisih aja! "
" Lho pie tho.  Dasar bocah.  Cinta kok dipikir.  Cinta ki ya dilakoni.  Ora mung dipikir.  Wes lah,  karepmu.  Lumayan enthuk coklat.  Iso tak jual manih".


Pelemgede,  100417