Ternyata aku masih memikirkan cinta. Kalau memang benar kata emak bahwa cinta itu realita. Nyatanya aku tidak lagi mendapatkan keseimbangan antara keduanya. Ditambah kata mbak Rumisih bahwa cinta tidak untuk dipikir, tapi harus dijalani.
Ah, apapula ini. Dan nyatanya aku masih memikirkannya. Memikirkan dia yang sekarang entah ada di mana. Iya, dia. Yang dulu pernah mengisi hariku.
Jangan tanya bagaimana dia. Dia tak sesempurna artis. Perawakannya sedang tapi pembawaannya luar biasa bersahaja. Dia mampu membuat aku menjadi wanita cantik. Paling tidak ini menurutku.
Jika kalian tidak percaya, maka perhatikan contoh dibawah ini:
Aku adalah wanita biasa. Cantik sedikit, manis tak lagi mau melekat. Kelebihannya aku tak berjerawat dan wajahku lebih halus karena air wudhu. Aku tak ubahnya wanita pawon. Tak pernah tau dunia luar. Bersolekpun aku tak mengenalnya. Apalagi baju. Seadanya baju di lemari akan kupakai. Rok hijau kaos merah dan krudung orange. Ya, itu perpaduan yang indah menurutku.
Dulu, aku jarang-jarang ke Suaru. Alih-alih mendampingi anak-anak mengaji. Mendengar adzan saja aku pura-pura sibuk dengan tetek bengek yang sebenarnya tidak penting.
Tapi, setelah mengenal dia dunia serasa berbalik.
Saat itu dia datang ke Kampung Belala, yang merupakan kampung tempat tinggalku dalam rangka kuliah Kerja Nyata (KKN). dia merupakan salah satu anggota yang memiliki ide briliant. Tindak tanduknya sering digunakan contoh bagi orang tua disini. Lebih-lebih orangtuaku. Sepertinya mereka sangat mengagumi dia.
Orang tuaku sering bilang "mbok kamu tu kayak Kak Cemeti itu lho. Rajin, sopan, sabar dengan anak-anak dan selalu datang awal saat adzan berkumandang. "
Saat itu aku mulai mengintip dia. Malu-malu aku mulai rajin ke Surau. Dan hal itu menjadi kesempatan emas bagiku. Aku mulai mengenalnya. Dan banyak pengetahuan yang kudapat darinya.
Tidak lama aku mengenalnya. Tapi efek perkenalanku dengan dia sangat luar biasa. Keinginanku untuk menimba ilmu mulai mengembang.
Dan aku bertekad setelah lulus MA aku mau mondok.
Sekarang, lima tahun telah berlalu. Aku kembali hidup di kampung untuk mengamalkan ilmu. Dan anehnya, dia yang kukenal sesingkat membalik telapak tangan itu kembali menghantui pikir. Ada apa ini? Dan parahnya, aku menganggap dia sudah lama mengisi hariku. Padahal kenal tiga bulan saja tidak genap.
Ah, bagaimanapun dan siapapun dia sekarang, aku ingin bertanya "apa kabarmu hari ini?"
Pelemgede, 130417
Ah, apapula ini. Dan nyatanya aku masih memikirkannya. Memikirkan dia yang sekarang entah ada di mana. Iya, dia. Yang dulu pernah mengisi hariku.
Jangan tanya bagaimana dia. Dia tak sesempurna artis. Perawakannya sedang tapi pembawaannya luar biasa bersahaja. Dia mampu membuat aku menjadi wanita cantik. Paling tidak ini menurutku.
Jika kalian tidak percaya, maka perhatikan contoh dibawah ini:
Aku adalah wanita biasa. Cantik sedikit, manis tak lagi mau melekat. Kelebihannya aku tak berjerawat dan wajahku lebih halus karena air wudhu. Aku tak ubahnya wanita pawon. Tak pernah tau dunia luar. Bersolekpun aku tak mengenalnya. Apalagi baju. Seadanya baju di lemari akan kupakai. Rok hijau kaos merah dan krudung orange. Ya, itu perpaduan yang indah menurutku.
Dulu, aku jarang-jarang ke Suaru. Alih-alih mendampingi anak-anak mengaji. Mendengar adzan saja aku pura-pura sibuk dengan tetek bengek yang sebenarnya tidak penting.
Tapi, setelah mengenal dia dunia serasa berbalik.
Saat itu dia datang ke Kampung Belala, yang merupakan kampung tempat tinggalku dalam rangka kuliah Kerja Nyata (KKN). dia merupakan salah satu anggota yang memiliki ide briliant. Tindak tanduknya sering digunakan contoh bagi orang tua disini. Lebih-lebih orangtuaku. Sepertinya mereka sangat mengagumi dia.
Orang tuaku sering bilang "mbok kamu tu kayak Kak Cemeti itu lho. Rajin, sopan, sabar dengan anak-anak dan selalu datang awal saat adzan berkumandang. "
Saat itu aku mulai mengintip dia. Malu-malu aku mulai rajin ke Surau. Dan hal itu menjadi kesempatan emas bagiku. Aku mulai mengenalnya. Dan banyak pengetahuan yang kudapat darinya.
Tidak lama aku mengenalnya. Tapi efek perkenalanku dengan dia sangat luar biasa. Keinginanku untuk menimba ilmu mulai mengembang.
Dan aku bertekad setelah lulus MA aku mau mondok.
Sekarang, lima tahun telah berlalu. Aku kembali hidup di kampung untuk mengamalkan ilmu. Dan anehnya, dia yang kukenal sesingkat membalik telapak tangan itu kembali menghantui pikir. Ada apa ini? Dan parahnya, aku menganggap dia sudah lama mengisi hariku. Padahal kenal tiga bulan saja tidak genap.
Ah, bagaimanapun dan siapapun dia sekarang, aku ingin bertanya "apa kabarmu hari ini?"
Pelemgede, 130417
Tidak ada komentar:
Posting Komentar