Kamis, 05 Oktober 2017

Rindu untuk Ayah

Ketika si kecil menggapai rindunya bersama Ayah.  Tak ada lagi yang lebih penting.  Semua inginnya dilalui bersama Ayah.

Tiga minggu. Waktu yang tak singkat juga tak lama.  Namun,  ketika Ayah tak kunjung datang,  tiga minggu serasa seabad.

"Bunda,  Ayi sedih...  Pingin ikut Ayah... " ucapnya di sore hari, dikala kami sedang bersantai.

"Lha,  Ayah masih kerja,  Mas.  Mau telpon Ayah?" tawarku pada si kecil.

"Mau.  Yang ada gambar Ayah ya,  Bun."

"Oke... " Aku beranjak mengambil smart phone kesayanganku.  Ku buka Wathsapp, lalu kucari kontak Ayah yang sudah dihafal oleh di kecil.

Kutekan icon video call. Kutunggu beberapa detik,  namun tiada jawaban.

" Belum diangkat,  Mas.  Mungkin Ayah masih sibuk." ucapku sambil mendekati mas Fachri yang menanti sambil bermain mobil kecil.

"Gak diangkat,  Bun?  Telpon lagi,  Bun... " pintanya.

Kutekan sekali lagi sambil melihat wajah imut mas Fachri yang sedang membaca bismillah.

"Diangkat,  Mas!" seruku.

Seketika hand phone berpindah ke tangan mungil mas Fachri.

"Ayah...  Ayi tadi sekolah.  Ayah lagi apa?" tanya mas Fachri.

"Ayah masih kerja ini,  Dik...  Ayi lagi apa?  Udah maem belum? " terdengar suara Ayah  dari seberang.

Mereka terhanyut dalam obrolan via video call,  dan aku masih menanti giliran untuk ngobrol dengan Ayah.  Namun,  terkadang aku tidak mendapatkannya.  Karena Ayah masih sibuk dengan tugasnya dan menyempatkan ber say hello dengan sang jagoan.

"Ayah cepet pulang ya... Da da...  Assalamualaikum... " terdengar suara mas Fachri menutup percakapan.

"Iya,  Dik...  Dua hari lagi Ayah pulang...  Waalaikumsalam..."

"Sudah,  Bun." mas Fachri menyodorkan Hand phone yang masih menyala.

"Belum dimatiin? Yah,  gak dimatiin?" tanyaku sambil beralih melihat layar berukuran 8,5 inc.

"Iya,  udah dulu ya Bun...  Dua hari lagi Ayah pulang... "

"Oke... " ucapku penuh kebahagiaan karena tak lama lagi Ayah pulang.

"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"

Obrolan pun terputus,  dan saya kembali bermain menemani mas Fachri yang sudah kembali sumringah.

Memamg,  terkadang rindu itu datang secara tiba-tiba.  Dan rindu itu tidak hanya kepada sepasang kekasih atau lawan jenis.  Rindu anak ke orang tua atau sebaliknya adalah rindu yang dahsyat.  Ada yang bisa menjelaskan dengan untaian kata?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar