#rumah.akmali
"kamu tau? Writers Block (WB) itu kayak demam. Tiba-tiba datang." Ucap Bina tiba-tiba.
Aku tertawa dan gatal untuk berkomentar, "Sayangnya, gak ada obat untuk Writers Block."
"Benarkah?" Bina menyela. Lalu duduk di sampingku sambil menyuguhkan kopi hangat.
"Ada apa denganmu?" aku mengambil kopi hitam yang masih mengepul. Begitu menggoda. Lalu aku menyeruputnya.
"Entahlah. Aku merasa tak semangat. Melihat layar saja rasanya eneg. Dan itu membuat pikiranku beku."
"lalu, kamu menyebut dirimu terkena serangan WB?" aku tak yakin dengan pertanyaanku. Yang kutahu, Bina adalah mahasiswa produktif. Setiap hari Bina menulis, entah di Blog pribadi atau di web lainnya. Dan aku tak yakin jika hari ini Bina belum menulis.
"Ya." Jawabnya singkat.
Diam, kami menikmati kopi yang mulai mendingin.
"WB itu bisa menyerang siapa saja, Kun." Bina menjelaskan.
"Tapi kan kamu sudah menulis lama. Bahkan, kamu akan menerbitkan buku." Aku masih tak yakin.
"Bahkan penulis yang sudah ternama sekalipun bisa terkena WB jika tidak segera ditanggulangi. Dan kamu tahu? hanya diri sendiri yang bisa mengobati." Bina beranjak dari tempat duduk, lalu mengambil buku yang berserak di lantai.
Sepertinya, Bina ingin menghilangkan rasa malasnya itu.
Bayangan masa laluku mulai berkelebat. Dulu aku sering menulis. Bahkan, sesekali aku mengirimkan artikel ke sebuah koran lokal. Tapi sekarang aku tak lagi melakukannya. Alasannya? Entahlah, aku terlalu malu untuk memulai. Atau aku terlalu malas. Dan, Bina selalu mengingatkanku untuk kembali menulis. Bahkan, Bina memberi buku-buku yang kusukai. Tapi, hal itu tak membuahkan hasil.
"Bina, ayolah menulis. Aku akan menemanimu untuk menulis. Dan kita akan kembali bersaing seperti sedia kala saat kita masih duduk di bangku SMA." Aku mendekati Bina yang sedang membolak-balikkan halaman buku tanpa minat.
"Are you sure?" Bina terkejut dan terpancar binar bahagia di antara ketidakyainan. Tapi, Bina tetaplah Bina. Bina akan berlagak keinggrisan jika terlalu senang.
"Ya, karena kita adalah penulis. Dan kita adalah dokter yang bisa menyembuhkan wabah WB. Baik WB itu masih ringan atau sudah akut menyerang kita." ucapku yakin. Tak terasa, mataku mulai mengembun.
Kami berpelukan. Sinar kebahagian dan semangat menulis kembali menyusup dalam relung hatiku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar