Kamis, 31 Agustus 2017

Hari Raya Idul Adha

Hari ini,  1 September 2017 yang bertepatan dengan hari raya Idul Adha.  
"Selamat Hari Raya Idul Adha". Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi pribadi yang memiliki keikhlasan dan kesabaran. 

Di hari raya Idul Adha ini,  banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran,  diantaranya adalah sebagai berikut. 

1. Ikhlas

2. Sabar

3. Kurban

4. Taqwa

5. Iman. 

Minggu, 27 Agustus 2017

Pencairan Bantuan PKH non Tunai

Yang ditunggu-tunggu datang.
Apa?
Uang.  Iya,  uang bantuan sosial.  Telah lama penerima PKH menantinya.
Dan kini,  bantuan itu telah tersalurkan.

Semoga uangnya bisa bermanfaat dan berkah.

Itu adalah harapan saya,  sebagai Pendamping. 

Kamis, 03 Agustus 2017

Kejutan hari ini ( Di sini Ada Do'a)




Siang ini terik bukan main.  Mau tidur gak bisa,  baca buku pun mas Fachri gak mau.  Akhirnya,  kami bermain di belakang.  Di tempat kecil yang terletak antara kandang sapi dan kamar mbah.

Di sini,  mas Fachri membuat kemah-kemahan dari sak warna biru yang biasanya digunakan mbah Uti memanaskan gabah hasil panen.

Ternyata di sini lumayan silir.  Aku memilih tiduran di bangku kecil tempat biasa mas Fachri tiduran.
Sedangkan mas Fachri bermain palu di ketuk-ketukkan di Pasir dan main selang kecil punya Akung. Katanya maen "cakruk".

Karena semilirnya angin di siang hari nan terik,  akupun mulai mengantuk. Namun,  ngantukku berangsur hilang ketika mendengar suara mas Fachri bernyanyi sambil menggerakkan tangan sesuai lagu yang dikumandangkan.

"Di tangan ini ada do'a
  Di mulut ini ada do'a
  Di dada ini ada do'a
  Mari kita berdo'a."




Selasa, 01 Agustus 2017

Ibu, Kemana Anakmu Terbang?

Dokumen.Pribadi

#rumah.akmali


“Nggak usah risau. mereka bukan anakmu.”  Enji menenangkanku. “Lagian, lihatlah ibu mereka pun tak menghiraukan. Mereka ibuk dengan dunianya sendiri.” tambahnya.

Aku semakin gelisah. Lagi-lagi temanku tak peduli. Enji seakan menutup mata dan telinga. Membiarkan anak-anak itu main lepas tanpa batas, dan juga tanpa pengawasan, layaknya pesawat landas tanpa pengemudi yang ahli.

“Enji, apakah ini benar dirimu? Apakah hatimu telah kau butakan?” aku tak percaya. “Dulu, kamu yang memberiku semangat dan mengajak mendirikan Rumah Belajar. Tapi sekarang... ada apa dengan dirimu, Enji?” aku mengguncang pundaknya. Enji diam, tanpa senyum. Seakan hatinya telah mati.

Aku menunggu jawaban Enji, lalu duduk di samping Enji. Dan, sekilas kulihat Enji mengusapkan ujung kerudungnya di pipinya.

“Kamu menangis?” tanyaku ragu.

Enji tersenyum, namun kecut yang kurasa. Enji semakin menjadi, tak kuasa menahan derasnya air mata yang mengalir.

“Aku kalah, Za.” Ungkapnya pelan. “anak-anak itu telah jauh berlari. Bahkan, sebagian besar dari orang tua mereka tak tahu sampai mana mereka berlari.” tambahnya.

“Apa yang kamu makud, Enji?” aku tak mengerti arah pembicaraan Enji.

“Lihatlah mereka. Mereka begitu bahagia memainkan Gadged berlayar mini. Ditambah adanya fasilitas wifi yang murah dari tetangga kita.” Enji terdiam.

“Ya, aku tahu. Dan itu adalah bagian tugas kita agar mereka bisa memainkan gadged baru itu dengan senang dan tetap terkontrol.” Aku menenangkan. Lebih tepatnya menenangkan kerisauan yang berkecamuk di dalam diriku.

Kami menyadari hal ini sudah lama. Game atau aplikasi yang ditawarkan di gadged begitu menyita perhatian anak-anak.  Dan kini. Barisan buku yang ada di Rumah Belajar kami bagai dicampakkan. Buku-buku itu tertata rapi, tak ada lagi tangan kecil yang menjamahnya. Tangan kecil-kecil itu telah lincah berselancar dalam dunia maya. Yang entah sampai mana mereka bermain. Kami tak ada yang tahu, kecuali mereka dan teman-temannya. "Ah,  entah sampai kapan ini akan berlangsung." keluhku.

“Bisakah?” Enji ragu.

“Aku yakin bisa. Tapi pasti tak mudah.” Ucapku menepis keraguan yang menjalar dalam jiwa.

“Lalu, bagaimana dengan orang tua mereka?” tanya Enji seakan mengujiku.

“Kita semua tahu. Hidup di Desa itu nano-nano. Semua ada. Dan pasti ada orang tua yang tidak tahu, entah tidak tahu karena benar-benar tidak tahu, ada orang tua yang tidak tahu tapi peduli sehingga mempercayakan agar anaknya dikontrol oleh saudaranya yang tahu, dan juga ada orang tua yang tahu serta peduli.” Ucapku.

“Ya. Dan kita termauk orang yang peduli. Meskipun mereka bukan anak kita.” Enji mulai berbinar.
“Kita bisa memulainya kembali, Za.” Imbuhnya.

Aku tersenyum. Setelah sekian lama aku dan Enji terlena dengan melihat aktivitas anak-anak itu, kini kami akan kembali bangkit.

“Meski susah, kita harus berusaha.” Enji mulai bersemangat. “Mungkin bisa kita mulai dengan duduk di tengah-tengah mereka dengan membawa gadged kita ini.” Celotehnya sambil menunjukkan gadged keluaran terbaru. “Lalu, kita bisa mulai main ke rumah mereka untuk sekedar mengobrol.” Tambahnya.

Aku diam mendengarkan rencana Enji yang luar biasa. Dan menikmati liarnya imajinaiku serta membiarkan otak di dalam kepalaku mulai menyusun mencari waktu yang tepat untuk bermain ke rumah anak-anak itu menemui orang tua mereka. Tahukah kalian? Orang tua mereka berbeda-beda. Ada yang tua dan juga ada yang muda. Ada yang full di rumah, dan ada juga yang mocok atau ngarit mencari rumput untuk ternaknya di siang hari.

#############

Tugas ini untuk memenuhi tugas ODOP Kelas Fiksi.  Tuga kali ini adalah menemukan penulis yang menginspirasi sehingga saya amapi memiliki keinginan untuk menjadi penulis. Jujur, penulis itu menginspirai semua, baik penulis yang sepak terjangnya sudah go internasional ataupun masih di ini saja.

Saat ini, saya sedang hobi membaca buku cerita anak. Banyak alasan sebenarnya, salah satunya adalah karena saya memiliki anak. Hal lain adalah sebagai baham untuk saya bercerita kepada anak, baik itu anak saya sendiri ataupun anak tetangga. Haha
Satu penulis cerita anak yang ingin saya sebut sebagai penginpirasi saya sehingga saya ingin bisa menulis cerita anak adalah Bunda Ari Nilandari. Namun sayang,  sampai sekarang saya masih belum bisa mengadopsi gaya bercerita Bunda Ari yang asik dan enak itu.

Obat Bagi Penulis

#rumah.akmali


"kamu tau? Writers Block (WB) itu kayak demam. Tiba-tiba datang." Ucap Bina tiba-tiba.

Aku tertawa dan gatal untuk berkomentar, "Sayangnya, gak ada obat untuk Writers Block."

"Benarkah?" Bina menyela. Lalu duduk di sampingku sambil menyuguhkan kopi hangat.

"Ada apa denganmu?" aku mengambil kopi hitam yang masih mengepul. Begitu menggoda. Lalu aku menyeruputnya.

"Entahlah. Aku merasa tak semangat. Melihat layar saja rasanya eneg. Dan itu membuat pikiranku beku."

"lalu, kamu menyebut dirimu terkena serangan WB?" aku tak yakin dengan pertanyaanku. Yang kutahu, Bina adalah mahasiswa produktif. Setiap hari Bina menulis, entah di Blog pribadi atau di web lainnya. Dan aku tak yakin jika hari ini Bina belum menulis.

"Ya." Jawabnya singkat.

Diam, kami menikmati kopi yang mulai mendingin.

"WB itu bisa menyerang siapa saja, Kun." Bina menjelaskan.

"Tapi kan kamu sudah menulis lama. Bahkan, kamu akan menerbitkan buku." Aku masih tak yakin.

"Bahkan penulis yang sudah ternama sekalipun bisa terkena WB jika tidak segera ditanggulangi. Dan kamu tahu?  hanya diri sendiri yang bisa mengobati." Bina beranjak dari tempat duduk, lalu mengambil buku yang berserak di lantai.
Sepertinya,  Bina ingin menghilangkan rasa malasnya itu.

Bayangan masa laluku mulai berkelebat. Dulu aku sering menulis. Bahkan, sesekali aku mengirimkan artikel ke sebuah koran lokal. Tapi sekarang aku tak lagi melakukannya. Alasannya? Entahlah, aku terlalu malu untuk memulai. Atau aku terlalu malas. Dan,  Bina selalu mengingatkanku untuk kembali menulis. Bahkan, Bina memberi buku-buku yang kusukai. Tapi, hal itu tak membuahkan hasil.

"Bina, ayolah menulis. Aku akan menemanimu untuk menulis. Dan kita akan kembali bersaing seperti sedia kala saat kita masih duduk di bangku SMA." Aku mendekati Bina yang sedang membolak-balikkan halaman buku tanpa minat.

"Are you sure?" Bina terkejut dan terpancar  binar bahagia di antara ketidakyainan. Tapi,  Bina tetaplah Bina.  Bina akan berlagak keinggrisan jika terlalu senang.

"Ya, karena kita adalah penulis. Dan kita adalah dokter yang bisa menyembuhkan wabah WB. Baik WB itu masih ringan atau sudah akut menyerang kita." ucapku yakin.  Tak terasa,  mataku mulai mengembun.

Kami berpelukan. Sinar kebahagian dan semangat menulis kembali menyusup dalam relung hatiku.

Senin, 24 Juli 2017

Wanita dan Asa

Diam. Aku mulai memperhatikan sekitar. Menikmati sore yang indah tanpa ditemani secangkir kopi hitam. Aku di sini, di bawah rindangnya pohon yang tumbuh subur di belakang rumah. menikmati keindahan sore hari. Mengawasi aktivitas seorang janda tua bersama anak lelaki yang telah berumur.

Aku mulai gerah. Ingin sekali menyeret lelaki bertubuh ringkih itu keluar dari rumah kecilnya. Membuang si lelaki berkulit putih pucat itu ke pulau yang tak terjamah manusia. “Tapi, apa urusanku?” batinku mulai berkecamuk, ruang kepalaku dipenuhi oleh cacian tanpa henti. “Aku harus  mengenyahkan si lelaki itu.” ucapku meyakinkan pada diri sendiri. Aku bergegas, melempar sandal  hijau dan membiarkan kaki dekilku bertelanjang.

“Hei Ndhuk, mau kemana?” terdengar teriakan Emak dari balik dinding bambu.

“Sial! Emak selalu mengawasiku.” gerutuku. Aku mengurungkan niat. Kuambil kembali sandal, lalu pura-pura duduk sambil memainkan gundukan tanah di bawah kursi yang sudah usang. Aku tersenyum kepada Emak yang sudah melongokkan kepala di balik pintu bambu.

Lalu tenang. Emak menghembuskan nafas kelegaan, dan kembali khusuk dengan penggorengan. Kuintip Emak dari celah dinding bambu yang reot termakan usia. Emak begitu lincah memasukkan biji kopi yang dicampur beras dan potongan kelapa ke dalam wajan hitamnya. Tak selang beberapa lama, Emak meniup cerobong ke dalam tungku agar api tetap menyala. Dan aku bisa menebak bahwa Emak akan mengusap keringat di pelipisnya lalu duduk di samping tungku sambil menggoreng kopi. “Tepat!” desisku.

Sunyi.  Aku mulai bosan dengan rutinitas ini. Diam-diam, aku melangkahkan kaki keluar rumah. Tanpa suara, aku menyebrang menuju rumah kecil yang dihuni oleh Janda tua dan anak lelaki yang telah berumur. Aku terseok, sesekali aku terjatuh dalam kubangan jalan yang terjal. Dalam batinku, aku hanya ingin ke rumah janda tua, menemui lelaki yang telah berumur.

“Hei, ngapain kamu kesini? Pulanglah. Jika tidak, kamu pasti akan diseret paksa oleh Emakmu.” Lelaki berumur itu memutar roda kursi yang diduduki. Dia keluar rumah, entah untuk menyambut kedatanganku atau untuk mengusirku.

“Pulanglah, Tina. Jangan kesini. Aku tak ingin kau disiksa perempuan tua itu.” Dia mengingatkanku sambil menunjuk rumahku. Disana, terlihat Emak sudah berdiri dengan berkacak pinggang di ambang pintu rumah.

Tiba-tiba mataku memanas. Hatiku bagai teremas. Semua kejadian lima belas tahun silam terekam kembali dalam kepala. Aku ingin meredam semua, tapi nyatanya aku tak sanggup. Semua cerita bermunculan, semua kisah saling berebut untuk mencuat. Dan aku limbung di depan rumah dia. Hanya air mata yang berebut melewati pipi keriputku.

“Kamu tak pernah mendengarkanku, Tina.” Tiba-tiba Emak sudah mendekapku dari belakang. Emak menuntunku untuk pulang ke rumah kami yang sudah reot. Akupun mengikuti langkah Emak.

Sayup-sayup ku dengar teriakan lelaki itu dari arah belakang. “Maafkan aku, Tina.”

Aku menoleh ke belakang. Melepas tangan Emak yang menggandengku. Kubiarkan air mata ini turun dengan derasnya. Aku hanya berdiri mematung. Tersenyum dan mengabaikan ajakan Emak untuk pulang. Kali ini, aku menjadi lebih tegar, membiarkan kisah itu berkelebat dalam kepala.

Kutatap dia yang tersenyum di atas kursi roda yang menjadi tempatnya sejak empat belas tahun yang lalu karena kecelakaan. Dia melambaikan tangan agar aku maju mendekat. Tapi aku tak bergeming. Karena Emak mendekapku dengan erat, dan cerita masa lalu menari dengan elok. Perlahan, si Janda tua mendorong kursi roda itu untuk mendekatiku yang masih juga bergeming.

Dan kali ini, Emak membiarkan ku berdiri sendiri. Menemaniku dari belakang. Seakan memberiku kesempatan untuk meluruskan masalah antara aku dan lelaki itu. Masalah yang tak pernah terungkap sejak lima bela tahun yang lalu.

“Maafkan aku, Tina. Aku tak pernah selingkuh. Wanita itu hanya memfitnah agar keluarga kita hancur. Tragisnya,  orang tua kita sudah termakan omongan wanita itu. Dan kamu?” dia, si lelaki berumur membuka suara. Dan inilah pertama kali kami berhadapan secara langsung setelah kejadian lima belas tahun itu.

Aku tahu, Emak terlalu menyayangiku. Sehingga saat mendengar kabar tentang perselingkuhan mas Bimo, si lelaki berumur,  Emak langsung menyeretku pulang ke rumah reotnya. Emak tak pernah memberi kesempatan untuk kami bertemu walau sekejap. Sehingga tak pernah ada titik terang tentang kabar yang di desuskan oleh si wanita itu.

Dan kini, kami dapatkan kesempatan itu.  Untuk bertemu kembali,  meski hanya sekejap .  Aku tahu Emak menyesal telah mengurungku selama belasan tahun di rumah reot hingga rasa dan asakupun mati terkungkung.

Rabu, 19 Juli 2017

Jangan Salahkan Dia

"Dia selalu menjerumuskanku!! Merusak hariku,  menelantarkan rencana, dan juga agenda baruku." aku menjerit,  lalu melempar tas hello kitty kesayanganku begitu saja. Aku mondar-mandir di kamar pengap berukuran 3x4 m hingga kutemukan wajahku terpantul pada cermin kusam.  Kutatap wajahku lekat-lekat,  hingga tanpa sadar aku menamparnya.

"Kenapa kamu selalu menuruti bisikannya? Bodoh! " aku melotot pada wajah polos itu. Kejadian tadi pagi terulang dengan jelas dalam ingatan.  Saat mendengar suara adzan subuh,  aku tak segera bangun, tapi semakin terlelap dan membenamkan wajah ke dalam empuknya kapas yang terbungkus indah dalam balutan kain berwarna hijau.
 
"Lihat!  Gara-gara dia,  kamu ketinggalan kelas.  Dan terakhir,  kamu tidak diperbolehkan masuk kelas mengikuti pelajaran." gerutuku, masih kesal dengan wajah yang balik memelototiku.

"Key,  kok sudah pulang?  Bukannya hari ini ada kuliah Sintaksis ya?" tanya Rena teman satu kosku.

"Aku gak dibolehin masuk kelas sama Pak Haman,  Ren." aku geram.  Lalu mendekati Rena yang duduk di bibir tempat tidurku.

"Jangan sentuh dia!" ucapku tiba-tiba kepada Rena yang mendekap si ijo.
 
"Kenapa?" Rena kaget,  lalu meletakkan si ijo ke tempat semula.

"Semua ini gara-gara dia!" aku menatap nanar si ijo.

"What?" Rena tergelak. "Kamu yakin menyalahkan si Ijo ini?" tanya Rena meyakinkan sambil menggendong si Ijo.

"Lihat ini,  lihat!  Harusnya kamu berterimakasih pada si Ijo. Dia itu barang mati yang baik hati.  Tak pernah protes mau diperlakukan si empunya sebagai apa.  Kamu lupa?  Siapa yang menemani dan mendengarkan celotehmu di malam hari? Siapa yang mau menampung air mata dan ingus setelah kamu puas mengadu kepada Allah di malam hari?  Siapa yang siap menopang kepala baumu dikala kamu terlelap? Ijo!  Bukan yang lain!" Rena melemparkan si Ijo ke wajahku,  lalu meninggalkan aku yang mencoba menangkap si Ijo.

Akupun mulai tersadar,  tak seharusnya aku menyalahkan Si Ijo yang telah menjadi teman tidur setiaku.

Dokumen pribadi