Sabtu, 23 September 2017

Lotek dan Ngidam

Foto by. Google

Lotek dan Ngidam,  benarkah ada hubungannya? 
Saya kira ini kebetulan.  Kebetulan saya ingin makan lotek, dan inginnya pada waktu lewat tengah malam.  

Menurut saya,  tengah malam memang waktu yang pas untuk berangan.  Apalagi saat perut minta perhatian.  Entah mulai dari sedikit mules atau keroncongan yang berlebihan. 

Kebetulan,  dua hari yang lalu saat saya di Pti,  ingin rasanya beli lotek.  Tapi entah mengapa,  panas yang begitu terik menyurutkan langkah untuk mengunjungi warung lotek yang jaraknya lumayan jika dijangkau dari kantor Dinsos.  Walhasil,  saya pun mengurungkan niat dan mencari alternatif lain,  yaitu membeli nasi dan tempe penyet. 

Malam ini,  di tengah terjaganya saya dari tidur,  tiba-tiba nama lotek beserta atribut imajinasi suguhan lotek begitu memadati akam pikir saya. 

Iya,  lotek.  Saya pikir tidak usah jauh-jauh ke Jogja untuk menikmati lotek yang menggoyang lidah.  

Maka,  sayapun mencari alternatif lain.  Mencari resep lotek di google. Namun,  saya tidak berselera.  Inginnya satu,  beli lotek yang siap saji dan siap santap. Tapi santai,  semua ini bisa ditahan sampai waktu memungkinkan. 

Lalu,  apakah benar ini ada hubungannya dengan ngidam? 

Semua ibu hamil mungkin pernah mengalami yang namanya ngidam.  Dan ngidam itu datangnya secara tiba-tiba dan tak dinyana.  Adapun ngidam,  menurut saya kembali ke pribadi masing-masing si ibu hamil.  Apakah harus segera dituruti atau diajak bersahabat sampai kondisi benar-benar memungkinkan untuk menuruti keinginan. 

Saya kira,  kita bisa menjadi calon ibu atau ibu bijak dan cerdas. Jadi,  yuk cerdas hadapi ngidam.  
Semoga sehat Bunda dan calon debay. 

Senin, 11 September 2017

Sepeda


Pagi ini,  saya mengantar mas Fachri ke sekolah.  Biasanya diantar Uti,  tapi karena suatu hal,  kami harus gantian.

Kesempatan seperti ini,  sedikit langka bagi saya.  Jadi,  sejak dari rumah kamera Hp saya selalu on,  saya jepret di setiap gerak mas Fachri yang menurut saya menarik.

Salah satunya adalah parkir sepeda. Ternyata mas Fachri memilih untuk memarkirkan sepedanya di bawah pohon.  Sepeda itu diparkir dengan apiknya,  dan ditata agar tampak lurus.

Di PAUD ANGGREK pelemgede,  ada dua anak yang selalu naik sepeda saat berangkat dan pulang sekolah.  Mereka adalah mas Fachri dan mas Dika.  Mereka berdua kenal di PAUD. Dan sekarang mereka akrab,  bak sahabat sejati.  Namun,  saya belum tahu apakah di usia mas Fachri sudah mengenal konsep sahabat?

Sejauh pengamatan saya,  mas Fachri akan menganggap seseorang itu sebagai teman ketika mas Fachri sudah kenal dan nyaman dengan orang tersebut.

Dan mungkin,  begitulah sejatinya teman atau sahabat.  Mereka adalah orang yang membuat kita nyaman,  baik dalam keadaan senang ataupun sedih. Benarkah begitu?

Senin ini ternyata penuh kejutan.  Saya menemukan beberapa hal yang baru yang bisa diterima oleh mas Fachri.
 
1. Ini adalah kali pertama mas Fachri mau memakai baju berbahan katun dengan senang hati.  Iya,  seragam yang digunakan itu masih baru.  Belum pernah dicoba.  Kemaren dapet langsung saya cuci terus dipake hari senin.  Belum dipermak,  jadi masih kegedean.  Tapi,  tetep kece dipake...  😂😂😂

2. Sepatu hitam yang diberi nama Hachika.  Sepatu itu adalah pilihan mas Fachri sendiri. Sudah lama sepatu itu ditelantarkan dan gak dipakai, karena milih pakai sepatu merah,  si sepatu super.  Dan pagi ini,  karena memakai seragam,  ternyata pilihan sepatu jatuh pada si hitam,  Hachika.  Kata  mas Fachri,   "merah sama orange gak pas.  Baguse sama hitam... "😂😂😂

Jumat, 08 September 2017

Watermelon


Ada yang tau lagu  Watermelon? Saya yakin, banyak sahabat yang tahu tentang lagu tersebut.

Lagu Watermelon tidak asing. Banyak dinyanyikan, baik dikalangan anak-anak,  remaja,  pun hingga emak-emak. Sungguh,  lagu yang begitu populer.

Siang ini. Ditengah teriknya panas yang mengudara.  Saya pulang kerja dengan memilih jalan kaki.  Iya,  tidak apa-apa.  Sesekali.  Ingin merasakan kenikmatan gendong tas ransel dibawah teriknya sinar mentari.  Dan ternyata aku tidaklah setangguh pada masa kuliah. Dulu,  kampus - Kos saya jabani jalan kaki,  meski hari masih atau sudah terik.  Apalagi Kos - Mirota,  panas yang merekah pun akan terkalahkan. 😂😂😂

Siang ini saya cuma jalan sedikit.  Tidak ada 1KM,  dan itu di RT sebelah.  Kebetulan tadi Pertemuan Kelompok untuk ibu-ibu PKH Pelemgede.  Jadi, dari Kecamatan saya pulangkan motor dan  saya jalan kaki menuju lokasi.   Sungguh,  panasnya terasa luar biasa.

Namun,  mungkin panas ini tidaklah seberapa dibanding dengan panasnya diluar sana.  Dimana?  Di lokasi-lokasi yang terjadi musibah kebakaran,  pembakaran,  atau bahkan pembantaian.

Sesampai di rumah,  panas ini semakin terasa karena tidak ada sambutan ceria si kecil.  Usut punya usut,  ternyata Mas Fachri sedang main ke rumah mbak Esti. Dan,  hanya satu yang ingin kulakukan,  minum sebanyak-banyaknya di depan kulkas.

Selang beberapa menit, aku mendengar langkah kecil dan suara imutnya dari depan rumah.  Mas Fachri ternyata melantunkan lagu.

"Watermelon - watermelon,  banana-banana,  papaya - papaya,  tomato - tomato."

Seketika,  aku tepuk tangan girang dan menyapanya.

Apa yang teman-teman bayangkan ketika mendengar lagu tersebut?
Mungkin buah yang segar.... 🍉🍉🍉

Namun,  selain bayangan buah yang segar,  ternyata lagu tersebut membawa kenangan dan ingatan tersendiri 4 tahun silam,  saat diklat PKH di Balai Diklat Yogyakarta.  Ada apa gerangan dengan lagu tersebut?  Lagu yang unik dan sudah dimodifikasi beserta gerakan-gerakan yang luar biasa datangkan semangat dan gelak tawa.  Dulu,  saat diklat lagu itu dinyanyikan oleh mbak Anik,  Pendamping PKH Margorejo - Pati.

Ingatkah kalian,  sobat?

Kamis, 07 September 2017

Pulang

Menuju tengah malam. Ketika semua bersiap untuk istirahat,  handphone (HP) butut ibu berbunyi. HP butut itu ternyata ada di depan tv.  Dan kebetulan Pak Dhe masih npnton tv.

"angkat wae,  kak." suara itu terdengar dari dalam. Lalu,  terdengar suara kaki ibu melangkah.

Aku yang sudah di dalam kamar mendengar keributan yang terjadi di ruang tengah.

"Yawes,  ati-ati ya Ndhuk." terdengar suara ibu mengakhiri percakapan.

"Ternyata Hpnya sudah pindah tangan." pikirku.

Aku tak ingin ambil pusing dengan percakapan yang terjadi di ruang tengah.  Tapi,  hatiku menolak untuk tidak serta ambil pusing.  Gemes rasanya, ingin sekali aku memaki.  Tapi memaki siapa? Dan memaki iru meripakan hal yang tak patut.

Sudah berulang kali diingatkan, kalau perjalanan jauh usahakan jangan malam.  Kenapa?  Karena alangkah lebih baiknya ketika tengah malam si gadis berada di rumah.  Setuju?

Beberapa hari yang lalu, kamu mengirimkan pesan "Mbah,  besok malam aku kesana dengan temanku naik bis."

Semua senang dengan kabar itu,  termasuk eyang D yang jauh datang dari Kalimantan.  Maka,  dengan senang hati pesan itu dibalas. "Iya. Nek bisa ajak adikmu dan ojo bengi-bengi ya... "

Dan nyatanya?  Malam ini,  jam 22.00 kamu telpon mengabarkan kamu di terminal terboyo.  Tahukah kamu?  Kamu itu gadis. Ayolah, tanamkan rasa simpati dan empati untuk keluargamu.