Aku mulai menyibukkan diri dengan segambreng aktivitas. Dari mengajar anak-anak kecil mengaji dan memulai menebar virus baca. Apa coba menebar virus baca. Sebenarnya aku hanya mengundang anak tetang untuk main ke rumah. Kuajak mereka membaca, bercerita, atau sesekali membedah tulisan dan belajar membuat puisi.
Hal tersebut sangat menyenangkan. Sehingga bisa mengalihkan pikiranku yang tersesat tentang cinta. Ah, lupakan.
Hal lain, Aku juga menikmati statusku sebagai jomblo sholihah. Tak kuhiraukan bisik-bisik tetangga yang mulai menyebarkan julukan untukku sebagai gadis tua. Masa bodoh. Usiaku juga baru 22 tahun.
Siang itu, sekitar satu minggu yang lalu aku diajak Bapak ke acara pernikahan anak temannya. Seperti biasa aku heboh untuk mempersiapkan baju dan semua perlengkapan yang akan kupakai. Tapi sayangnya kata Emak aku tetep aja begini, gak ada cantik-cantiknya meski segala sesuatu sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.
Tapi, lagi dan lagi aku tak perduli. Perpaduan gaun bunga-bunga dengan hijab berwarna biru muda kukira cukup membuatku tampil menawan.
Siang itu spesial. Aku bersama Bapak. Bak putri yang diiring oleh bapak untuk memilih pangeran berkuda. Aku diajak Bapak berkeliling menemui teman-teman kerja dan juga beberapa teman alumni SMA.
Saat aku asik mengobrol dengan anak dari teman alumni SMA bapak, aku mendengar ada yang menyapa.
"Assalamualaikum. Kamu.... Weni, kan?" tanyanya tak yakin.
Aku mendongak. Seketika darahku membeku dan wajahku pucat pasi.
"Hey, kamu kenapa? " tanya Reni anak teman SMA bapak sambil menepuk bahuku.
"Waalaikumsalam... Masya Allah..... " aku tak kuasa menahan gemuruh dada ini. Tak kupedulikan dia yang masih mlongo terheran penuh tanda tanya. Aku lari terbirit. Mencari cermin atau apapun yang bisa kuajak bicara.
Beruntung ada kamar mandi di samping Balai tempat diadakannya resepsi.
"Duh Gusti... Mimpi apa aku semalam. Setelah sebulan lebih aku berusaha menepis pikiranku tentang dia. Kini dia ada di depanku. Dan Masya Allah..... Lima tahun lebih lamanya, Dan dia masih mengenaliku. Apa ini pertanda..... " Aku mulai berbinar kege-eran. Malu-malu kupandangi wajah penuh kebahagiaan yang terpantul dicermin. Aku segera merapikan hijab yang sebenarnya masih rapi. Lalu kembali kekerumunan tamu yang hadir.
Celingkan kucari dia dan Reni. "Dimana mereka? " batinku. Dan aku mulai menyesali kebodohanku yang telah menyia-nyiakan kesempatan emas. Seharusnya aku tak meninggalkan dia begitu saja. Ah, bodohnya aku.
"Wen, kamu kemana saja?" Reni menepuk pundakku keras.
"Ya Allah, bikin kaget saja sih kamu".
"Lha kamu. Dari tadi dipanggil, malah keenakan ngelamun. Mikir apa to? "
"Gak ada. Dimana dia?" wajahku memerah.
"Dia siapa? " Reni terheran.
Segera kutarik tangannya. Kuajak dia mendekat ke Bapak. Ternyata bapak masih asik ngobrol dengan sahabat lamanya. Dan diantara mereka itu.... Langkahku terhenti.
"kenapa? Ayo dari tadi ditungguin bapak dan itu cowok".
"Aku gak mau kesana, Ren. "
"Kenapa?"
Aku terdiam, dan Reni tetap menarikku.
"Wen, sini. Ini lho Fuad. Gak nyangka ya bisa ketemu disini. Kamu kan dulu sering bilang pingin ketemu Fuad lagi. " Bapak tertawa bahagia seakan semua biasa saja.
Aku hanya terdiam, duduk diantara mereka dan ratusan tamu yang sedang menikmati suguhan.
"Lha kok cuma diam. Katanya kalau ketemu mau bilang terimakasih. Karena kamu dia jadi rajin lho, Fuad. Semangat nuntut ilmunya jadi tinggi. " Bapak cerita dengan antusias.
"Masak to, Pak? Weni kan memang rajin dari dulu". Fuad berkilah.
"Alah, kamu gak tau. Kapan-kapan datanglah ke kampung. Banyak yang rindu kamu. Kamu itu meninggalkan banyak kesan di hati orang kampung. "
Aku hanya diam. Reni dan bapaknya sudah pamit duluan. Dan Bapak kembali duduk menikmati suguhan sambil mendengarkan ceramah dari kiai. Ternyata acara resepsi sudah diujung acara.
"Duh, aku harus bisa ngobrol dengan dia. Eh, kak Fuad maksudnya." aku masih diam dalam pikir.
"Wen, kamu sekarang berubah ya. Gimana kabarnya? " tanya kak Fuad penuh selidik.
"Alhamdulillah baik, kak. Kak Fuad gimana? " jawabku malu.
"seperti yang kamu lihat, aku juga baik. "
Aku masih penasaran dan ingin banyak bertanya "Apakah kak Fuad sudah menikah? Kak Fuad kok bisa disini, bukannya kak Fuad asli Palembang? Kak Fuad kenapa gak pernah main ke Kampung? Kak Fuad sekarang kerja dimana?". Tapi sayang semua pertanyaan itu tersekat dalam pikir dan tercekat dalam tenggorokan.
Tak terasa, acara telah usai. Kamipun harus pulang ke rumah masing-masing. Tak banyak yang bisa kuobrolkan dengan kak Fuad. Tapi aku bahagia karena di akhir acara aku bertukar nomor telepon.
"horeeee Alhamdulillah... ". Sorakku dalam hati.
Pelemgede, 140417
Hal tersebut sangat menyenangkan. Sehingga bisa mengalihkan pikiranku yang tersesat tentang cinta. Ah, lupakan.
Hal lain, Aku juga menikmati statusku sebagai jomblo sholihah. Tak kuhiraukan bisik-bisik tetangga yang mulai menyebarkan julukan untukku sebagai gadis tua. Masa bodoh. Usiaku juga baru 22 tahun.
Siang itu, sekitar satu minggu yang lalu aku diajak Bapak ke acara pernikahan anak temannya. Seperti biasa aku heboh untuk mempersiapkan baju dan semua perlengkapan yang akan kupakai. Tapi sayangnya kata Emak aku tetep aja begini, gak ada cantik-cantiknya meski segala sesuatu sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.
Tapi, lagi dan lagi aku tak perduli. Perpaduan gaun bunga-bunga dengan hijab berwarna biru muda kukira cukup membuatku tampil menawan.
Siang itu spesial. Aku bersama Bapak. Bak putri yang diiring oleh bapak untuk memilih pangeran berkuda. Aku diajak Bapak berkeliling menemui teman-teman kerja dan juga beberapa teman alumni SMA.
Saat aku asik mengobrol dengan anak dari teman alumni SMA bapak, aku mendengar ada yang menyapa.
"Assalamualaikum. Kamu.... Weni, kan?" tanyanya tak yakin.
Aku mendongak. Seketika darahku membeku dan wajahku pucat pasi.
"Hey, kamu kenapa? " tanya Reni anak teman SMA bapak sambil menepuk bahuku.
"Waalaikumsalam... Masya Allah..... " aku tak kuasa menahan gemuruh dada ini. Tak kupedulikan dia yang masih mlongo terheran penuh tanda tanya. Aku lari terbirit. Mencari cermin atau apapun yang bisa kuajak bicara.
Beruntung ada kamar mandi di samping Balai tempat diadakannya resepsi.
"Duh Gusti... Mimpi apa aku semalam. Setelah sebulan lebih aku berusaha menepis pikiranku tentang dia. Kini dia ada di depanku. Dan Masya Allah..... Lima tahun lebih lamanya, Dan dia masih mengenaliku. Apa ini pertanda..... " Aku mulai berbinar kege-eran. Malu-malu kupandangi wajah penuh kebahagiaan yang terpantul dicermin. Aku segera merapikan hijab yang sebenarnya masih rapi. Lalu kembali kekerumunan tamu yang hadir.
Celingkan kucari dia dan Reni. "Dimana mereka? " batinku. Dan aku mulai menyesali kebodohanku yang telah menyia-nyiakan kesempatan emas. Seharusnya aku tak meninggalkan dia begitu saja. Ah, bodohnya aku.
"Wen, kamu kemana saja?" Reni menepuk pundakku keras.
"Ya Allah, bikin kaget saja sih kamu".
"Lha kamu. Dari tadi dipanggil, malah keenakan ngelamun. Mikir apa to? "
"Gak ada. Dimana dia?" wajahku memerah.
"Dia siapa? " Reni terheran.
Segera kutarik tangannya. Kuajak dia mendekat ke Bapak. Ternyata bapak masih asik ngobrol dengan sahabat lamanya. Dan diantara mereka itu.... Langkahku terhenti.
"kenapa? Ayo dari tadi ditungguin bapak dan itu cowok".
"Aku gak mau kesana, Ren. "
"Kenapa?"
Aku terdiam, dan Reni tetap menarikku.
"Wen, sini. Ini lho Fuad. Gak nyangka ya bisa ketemu disini. Kamu kan dulu sering bilang pingin ketemu Fuad lagi. " Bapak tertawa bahagia seakan semua biasa saja.
Aku hanya terdiam, duduk diantara mereka dan ratusan tamu yang sedang menikmati suguhan.
"Lha kok cuma diam. Katanya kalau ketemu mau bilang terimakasih. Karena kamu dia jadi rajin lho, Fuad. Semangat nuntut ilmunya jadi tinggi. " Bapak cerita dengan antusias.
"Masak to, Pak? Weni kan memang rajin dari dulu". Fuad berkilah.
"Alah, kamu gak tau. Kapan-kapan datanglah ke kampung. Banyak yang rindu kamu. Kamu itu meninggalkan banyak kesan di hati orang kampung. "
Aku hanya diam. Reni dan bapaknya sudah pamit duluan. Dan Bapak kembali duduk menikmati suguhan sambil mendengarkan ceramah dari kiai. Ternyata acara resepsi sudah diujung acara.
"Duh, aku harus bisa ngobrol dengan dia. Eh, kak Fuad maksudnya." aku masih diam dalam pikir.
"Wen, kamu sekarang berubah ya. Gimana kabarnya? " tanya kak Fuad penuh selidik.
"Alhamdulillah baik, kak. Kak Fuad gimana? " jawabku malu.
"seperti yang kamu lihat, aku juga baik. "
Aku masih penasaran dan ingin banyak bertanya "Apakah kak Fuad sudah menikah? Kak Fuad kok bisa disini, bukannya kak Fuad asli Palembang? Kak Fuad kenapa gak pernah main ke Kampung? Kak Fuad sekarang kerja dimana?". Tapi sayang semua pertanyaan itu tersekat dalam pikir dan tercekat dalam tenggorokan.
Tak terasa, acara telah usai. Kamipun harus pulang ke rumah masing-masing. Tak banyak yang bisa kuobrolkan dengan kak Fuad. Tapi aku bahagia karena di akhir acara aku bertukar nomor telepon.
"horeeee Alhamdulillah... ". Sorakku dalam hati.
Pelemgede, 140417
Memang bahagia banget jika bisa berjumpa dgn seseorang yang kita cinta
BalasHapusYippiiiii hurrayyy 😀
BalasHapusCieee semoga dijodohin ya ma bapak..
BalasHapusCieee semoga dijodohin ya ma bapak..
BalasHapusPenasaran nih kelanjutan ceritanya 😊
BalasHapus