Dokumen.Pribadi
#rumah.akmali
“Nggak usah risau. mereka bukan anakmu.” Enji menenangkanku. “Lagian, lihatlah ibu mereka pun tak menghiraukan. Mereka ibuk dengan dunianya sendiri.” tambahnya.
Aku semakin gelisah. Lagi-lagi temanku tak peduli. Enji seakan menutup mata dan telinga. Membiarkan anak-anak itu main lepas tanpa batas, dan juga tanpa pengawasan, layaknya pesawat landas tanpa pengemudi yang ahli.
“Enji, apakah ini benar dirimu? Apakah hatimu telah kau butakan?” aku tak percaya. “Dulu, kamu yang memberiku semangat dan mengajak mendirikan Rumah Belajar. Tapi sekarang... ada apa dengan dirimu, Enji?” aku mengguncang pundaknya. Enji diam, tanpa senyum. Seakan hatinya telah mati.
Aku menunggu jawaban Enji, lalu duduk di samping Enji. Dan, sekilas kulihat Enji mengusapkan ujung kerudungnya di pipinya.
“Kamu menangis?” tanyaku ragu.
Enji tersenyum, namun kecut yang kurasa. Enji semakin menjadi, tak kuasa menahan derasnya air mata yang mengalir.
“Aku kalah, Za.” Ungkapnya pelan. “anak-anak itu telah jauh berlari. Bahkan, sebagian besar dari orang tua mereka tak tahu sampai mana mereka berlari.” tambahnya.
“Apa yang kamu makud, Enji?” aku tak mengerti arah pembicaraan Enji.
“Lihatlah mereka. Mereka begitu bahagia memainkan Gadged berlayar mini. Ditambah adanya fasilitas wifi yang murah dari tetangga kita.” Enji terdiam.
“Ya, aku tahu. Dan itu adalah bagian tugas kita agar mereka bisa memainkan gadged baru itu dengan senang dan tetap terkontrol.” Aku menenangkan. Lebih tepatnya menenangkan kerisauan yang berkecamuk di dalam diriku.
Kami menyadari hal ini sudah lama. Game atau aplikasi yang ditawarkan di gadged begitu menyita perhatian anak-anak. Dan kini. Barisan buku yang ada di Rumah Belajar kami bagai dicampakkan. Buku-buku itu tertata rapi, tak ada lagi tangan kecil yang menjamahnya. Tangan kecil-kecil itu telah lincah berselancar dalam dunia maya. Yang entah sampai mana mereka bermain. Kami tak ada yang tahu, kecuali mereka dan teman-temannya. "Ah, entah sampai kapan ini akan berlangsung." keluhku.
“Bisakah?” Enji ragu.
“Aku yakin bisa. Tapi pasti tak mudah.” Ucapku menepis keraguan yang menjalar dalam jiwa.
“Lalu, bagaimana dengan orang tua mereka?” tanya Enji seakan mengujiku.
“Kita semua tahu. Hidup di Desa itu nano-nano. Semua ada. Dan pasti ada orang tua yang tidak tahu, entah tidak tahu karena benar-benar tidak tahu, ada orang tua yang tidak tahu tapi peduli sehingga mempercayakan agar anaknya dikontrol oleh saudaranya yang tahu, dan juga ada orang tua yang tahu serta peduli.” Ucapku.
“Ya. Dan kita termauk orang yang peduli. Meskipun mereka bukan anak kita.” Enji mulai berbinar.
“Kita bisa memulainya kembali, Za.” Imbuhnya.
Aku tersenyum. Setelah sekian lama aku dan Enji terlena dengan melihat aktivitas anak-anak itu, kini kami akan kembali bangkit.
“Meski susah, kita harus berusaha.” Enji mulai bersemangat. “Mungkin bisa kita mulai dengan duduk di tengah-tengah mereka dengan membawa gadged kita ini.” Celotehnya sambil menunjukkan gadged keluaran terbaru. “Lalu, kita bisa mulai main ke rumah mereka untuk sekedar mengobrol.” Tambahnya.
Aku diam mendengarkan rencana Enji yang luar biasa. Dan menikmati liarnya imajinaiku serta membiarkan otak di dalam kepalaku mulai menyusun mencari waktu yang tepat untuk bermain ke rumah anak-anak itu menemui orang tua mereka. Tahukah kalian? Orang tua mereka berbeda-beda. Ada yang tua dan juga ada yang muda. Ada yang full di rumah, dan ada juga yang
mocok atau
ngarit mencari rumput untuk ternaknya di siang hari.
#############
Tugas ini untuk memenuhi tugas ODOP Kelas Fiksi. Tuga kali ini adalah menemukan penulis yang menginspirasi sehingga saya amapi memiliki keinginan untuk menjadi penulis. Jujur, penulis itu menginspirai semua, baik penulis yang sepak terjangnya sudah go internasional ataupun masih di ini saja.
Saat ini, saya sedang hobi membaca buku cerita anak. Banyak alasan sebenarnya, salah satunya adalah karena saya memiliki anak. Hal lain adalah sebagai baham untuk saya bercerita kepada anak, baik itu anak saya sendiri ataupun anak tetangga. Haha
Satu penulis cerita anak yang ingin saya sebut sebagai penginpirasi saya sehingga saya ingin bisa menulis cerita anak adalah Bunda Ari Nilandari. Namun sayang, sampai sekarang saya masih belum bisa mengadopsi gaya bercerita Bunda Ari yang asik dan enak itu.