Jumat, 21 April 2017

Kehebatan Wanita Berkubang Tanah

"Mereka bukan wanita hebat.  Mereka hanya wanita lemah yang bersimpuh tanah dan juga kotoran." Rina mulai bercerita.  "Mereka hanya menengadahkan tangan ke suami.  Gak pernah bisa mentisihkan uang barang sepersen untuk ditabung." Rina menambahi.  Wajahnya begitu muram,  seakan jijik mengingat pengalamannya.

Satu bulan yang lalu aku dan Rina mengikuti penelitian yang diadakan oleh jurusan Antropologi di Kabupaten Pati.  Tepatnya di kecamatan Pucakwangi.  Tema yang diangkat tentang kebudayaan dan dibagi menjadi beberapa judul.

Kebetulan Rina berfokus dengan judul tentang mata pencaharian warga setempat.  Sedangkan aku berfokus dengan judul pemanfaatan waktu luang. Kami ditempatkan di desa Lumbungmas.  Penelitian ini memberi pengalaman yang luar biasa untuk kami, terlebih bagi Rina yang nota benenya adalah orang kota dan anak dari pasangan pegawai negeri sipil.

Kecamatan Pucakwangi berada di pinggiran Pati.  Berbatasan dengan kabupaten Blora.  Para penduduk disana kebanyakan memiliki mata pencaharian sebagai petani.  Sebagian adalah tukang dan atau pekerja serabutan.  Sebagian kecil adalah berwiraswasta dan sebagai pegawai negeri sipil (PNS).

Para wanita di kecamatan Pucakwangi banyak yang mendedikasikan dirinya sebagai ibu rumah tangga.  Jika ada sebagian dari mereka yang bekerja,  hal tersebut merupakan pilihan mereka masing-masing dengan berbagai alasan.

"Kenapa kamu berkata begitu,  Rin?  Tidak adakah pengalaman lain yang melekat di ingatanmu"? Hatiku tersengat dengan ucapan Rina.  Aku,  meski hanya satu bulan tinggal di kecamatan Pucakwangi, aku tidak setuju dengan pendapat Rina.

Bagaimana tidak?  Mereka,  para perempuan yang mendedikasikan sebagai ibu rumah tangga ternyata tugasnya begitu bejibun.

"Apakah salah,  Nis?" Rina heran.  "Apakah kamu tidak melihat.  Para perempuan itu membersihkan kandang sapi, kandang kambing,  bahkan ada pula sebagian mereka yang merumput dan menanam padi saat musim hujan." Rina menambahkan.

"Ya.  Apakah salah"? tanyaku menyelidik.

"Tidak salah.  Tapi kan kotor. " suara Rina dipelankan.

" Kotor katamu.  Tapi kenapa kamu bilang mereka tidak hebat"? Tanyaku meninggi.  Jelas saja aku tidak terima.  Bagiku, mereka itu wanita hebat.  Kebanyakan dari saudaraku juga ibu rumah tangga. Mereka tidak sungkan melakukan pekerjaan berat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanah,  juga hewan.  Karena semua itu adalah bagian dari kehidupan dan sebagai mata pencaharian yang mampu mengantarkan anak cucu mereka untuk selalu menjadi yang lebih baik.

Rina diam
" aku tidak ingin seperti mereka. " Rina tak bisa menjawab pertanyaanku.

" Ya,  itu hakmu mau menjadi dan seperti apa. Tapi,  kamu tidak berhak mencela pekerjaan orang lain. Bagaimanpun,  tanpa mereka di dunia ini tak akan ada nasi enak. Tak akan ada anak petani yang menjadi pegawai,  DPR,  atau bahkan menteri. " aku mencari kata-kata yang bagus agar Rina bisa sadar bahwa mereka wanita hebat.

Aku teringat saat penelitian kemaren.  Aku berkenalan dengan seorang ibu muda yang usianya tak beda jauh denganku.  Ya,  usianya 22 tahun.  Namanya Sri.  Anaknya umur dua tahun.  Dia adalah seorang ibu rumah tangga.  Tugasnya sangat luar biasa banyak.  Dari bangun tidur hingga kembali tidur. Mencuci baju,  menyetrika,  memasak,  membereskan rumah,  merawat anak, mendidik anak,  dan merawat orangtuanya yang sakit, Semua dia lakukan sendiri,  tanpa ada libur. Bahkan,  jika musim hujan datang dia mocok tandur demi mendapat tambahan penghasilan. Suaminya merantau ke Kalimantan, kerja di bangunan.  Selain itu,  Mbak Sri juga memiliki beberapa ekor kambing.  Jadi,  di pagi dan sore hari mbak Sri membersihkan kandamg kambing dan mencari daunan untuk makanan kambing di sore hari.

Ah,  betapa luar biasanya mbak Sri dan perempuan desa yang lain. Bagaimana aku bisa mengatakan bahwa mereka tidak hebat?  Mereka adalah wanita hebat dan luar biasa. Dan seperti kata Ibu yang rumahnya saya tempati saat penelitian,   istri pak Kepala desa "bahwa sejatinya wanita hebat adalah mereka yang bisa melaksanakan tugasnya dengan penuh keikhlasan dan mengantarkan anak-anaknya untuk menyongsong masa depan dengan penuh keyakinan dan takwa kepada Illahi."

"Oiya,  hari ini tanggal 21 April.  Hari Kartini nih, Nis.  Bagaimana kalau kita ketempat penelitian kita? Mereka pasti punya banyak cerita untuk kita. " Rina mengusulkan.

"Wah,  ide bagus.  Kita ajak yang lain juga yuk. " aku mengiyakan.

Kami beranjak dari kantin yang berada di Fakultasku. Kami bergandeng tangan dalam diam.  Menyelami pikiran masing-masing tentang sejatinya wanita yang hebat.



Pelemgede,  210417

Rabu, 19 April 2017

Kembali, Jumpa dengan Dia

Aku mulai menyibukkan diri dengan segambreng aktivitas.  Dari mengajar anak-anak kecil mengaji dan memulai menebar virus baca.  Apa coba menebar virus baca.  Sebenarnya aku hanya mengundang anak tetang untuk main ke rumah.  Kuajak mereka membaca, bercerita,  atau sesekali membedah tulisan dan belajar membuat puisi.

Hal tersebut sangat menyenangkan.  Sehingga bisa mengalihkan pikiranku yang tersesat tentang cinta.  Ah,  lupakan.

Hal lain,  Aku juga menikmati statusku sebagai jomblo sholihah.  Tak kuhiraukan bisik-bisik tetangga yang mulai menyebarkan julukan untukku sebagai gadis tua.  Masa bodoh.  Usiaku juga baru 22 tahun.

Siang itu,  sekitar satu minggu yang lalu aku diajak Bapak ke acara pernikahan anak temannya.  Seperti biasa aku heboh untuk mempersiapkan baju dan semua perlengkapan yang akan kupakai.  Tapi sayangnya kata Emak aku tetep aja begini,  gak ada cantik-cantiknya meski segala sesuatu sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.

Tapi,  lagi dan lagi aku tak perduli.  Perpaduan gaun bunga-bunga dengan hijab berwarna biru muda kukira cukup membuatku tampil menawan.

Siang itu spesial.  Aku bersama Bapak.  Bak putri yang diiring oleh bapak untuk memilih pangeran berkuda. Aku diajak Bapak berkeliling menemui teman-teman kerja dan juga beberapa teman alumni SMA.

Saat aku asik mengobrol dengan anak dari teman alumni SMA bapak, aku mendengar ada yang menyapa.

"Assalamualaikum. Kamu....  Weni,  kan?" tanyanya tak yakin.

Aku mendongak.  Seketika darahku membeku dan wajahku pucat pasi.

"Hey,  kamu kenapa? " tanya Reni anak teman SMA bapak sambil menepuk bahuku.

"Waalaikumsalam... Masya Allah..... " aku tak kuasa menahan gemuruh dada ini.  Tak kupedulikan dia yang masih mlongo terheran penuh tanda tanya. Aku lari terbirit. Mencari cermin atau apapun yang bisa kuajak bicara.

Beruntung ada kamar mandi di samping Balai tempat diadakannya resepsi.
"Duh Gusti...  Mimpi apa aku semalam.  Setelah sebulan lebih aku berusaha menepis pikiranku tentang dia.  Kini dia ada di depanku.  Dan Masya Allah.....  Lima tahun lebih lamanya,  Dan dia masih mengenaliku.  Apa ini pertanda..... " Aku mulai berbinar kege-eran.  Malu-malu kupandangi wajah penuh kebahagiaan yang terpantul dicermin. Aku segera merapikan hijab yang sebenarnya masih rapi.  Lalu kembali kekerumunan tamu yang hadir.

Celingkan kucari dia dan Reni.  "Dimana mereka? " batinku.  Dan aku mulai menyesali kebodohanku yang telah menyia-nyiakan kesempatan emas.  Seharusnya aku tak meninggalkan dia begitu saja.  Ah,  bodohnya aku.

"Wen,  kamu kemana saja?" Reni menepuk pundakku keras.

"Ya Allah,  bikin kaget saja sih kamu".

"Lha kamu.  Dari tadi dipanggil, malah keenakan ngelamun.  Mikir apa to? "

"Gak ada.  Dimana dia?" wajahku memerah.

"Dia siapa? " Reni terheran.

Segera kutarik tangannya. Kuajak dia mendekat ke Bapak.  Ternyata bapak masih asik ngobrol dengan sahabat lamanya.  Dan diantara mereka itu....  Langkahku terhenti.

"kenapa? Ayo dari tadi ditungguin bapak dan itu cowok".

"Aku gak mau kesana,  Ren. "
"Kenapa?"

Aku terdiam, dan Reni tetap menarikku.

"Wen,  sini.  Ini lho Fuad.  Gak nyangka ya bisa ketemu disini. Kamu kan dulu sering bilang pingin ketemu Fuad lagi. " Bapak tertawa bahagia seakan semua biasa saja.

Aku hanya terdiam,  duduk diantara mereka dan ratusan tamu yang sedang menikmati suguhan.
"Lha kok cuma diam.  Katanya kalau ketemu mau bilang terimakasih.  Karena kamu dia jadi rajin lho,  Fuad.  Semangat nuntut ilmunya jadi tinggi. " Bapak cerita dengan antusias.

"Masak to,  Pak? Weni kan memang rajin dari dulu". Fuad berkilah.

"Alah,  kamu gak tau.  Kapan-kapan datanglah ke kampung.  Banyak yang rindu kamu.  Kamu itu meninggalkan banyak kesan di hati orang kampung. "

Aku hanya diam. Reni dan bapaknya sudah pamit duluan.  Dan Bapak kembali duduk menikmati suguhan sambil mendengarkan ceramah dari kiai.  Ternyata acara resepsi sudah diujung acara.
 "Duh,  aku harus bisa ngobrol dengan dia.  Eh, kak Fuad maksudnya." aku masih diam dalam pikir.

"Wen,  kamu sekarang berubah ya. Gimana kabarnya? " tanya kak Fuad penuh selidik.
"Alhamdulillah baik,  kak. Kak Fuad gimana? " jawabku malu.
"seperti yang kamu lihat,  aku juga baik. "

Aku masih penasaran dan ingin banyak bertanya "Apakah kak Fuad sudah menikah?  Kak Fuad kok bisa disini,  bukannya kak Fuad asli Palembang? Kak Fuad kenapa gak pernah main ke Kampung?  Kak Fuad sekarang kerja dimana?". Tapi sayang semua pertanyaan itu tersekat dalam pikir dan tercekat dalam tenggorokan.

Tak terasa,  acara telah usai.  Kamipun harus pulang ke rumah masing-masing.  Tak banyak yang bisa kuobrolkan dengan kak Fuad. Tapi aku bahagia karena di akhir acara aku bertukar nomor telepon.

"horeeee Alhamdulillah... ". Sorakku dalam hati.

Pelemgede,  140417

Apa Kabar Hari Ini?

Ternyata aku masih memikirkan cinta.  Kalau memang benar kata emak bahwa cinta itu realita.  Nyatanya aku tidak lagi mendapatkan keseimbangan antara keduanya. Ditambah kata mbak Rumisih bahwa cinta tidak untuk dipikir,  tapi harus dijalani.

Ah,  apapula ini.  Dan nyatanya aku masih memikirkannya. Memikirkan dia yang sekarang entah ada di mana.  Iya,  dia.  Yang dulu pernah mengisi hariku.

Jangan tanya bagaimana dia.  Dia tak sesempurna artis.  Perawakannya sedang tapi pembawaannya luar biasa bersahaja.  Dia mampu membuat aku menjadi wanita cantik.  Paling tidak ini menurutku.

Jika kalian tidak percaya,  maka perhatikan contoh dibawah ini:
Aku adalah wanita biasa.  Cantik sedikit,  manis tak lagi mau melekat.  Kelebihannya aku tak berjerawat dan wajahku lebih halus karena air wudhu.  Aku tak ubahnya wanita pawon.  Tak pernah tau dunia luar.  Bersolekpun aku tak mengenalnya.  Apalagi baju.  Seadanya baju di lemari akan kupakai.  Rok hijau kaos merah dan krudung orange.  Ya,  itu perpaduan yang indah menurutku.

Dulu,  aku jarang-jarang ke Suaru. Alih-alih mendampingi anak-anak mengaji.  Mendengar adzan saja aku pura-pura sibuk dengan tetek bengek yang sebenarnya tidak penting.

Tapi,  setelah mengenal dia dunia serasa berbalik.

Saat itu dia datang ke Kampung Belala, yang merupakan kampung tempat tinggalku dalam rangka kuliah Kerja Nyata (KKN). dia merupakan salah satu anggota yang memiliki ide briliant. Tindak tanduknya sering digunakan contoh bagi orang tua disini. Lebih-lebih orangtuaku.  Sepertinya mereka sangat mengagumi dia.

Orang tuaku sering bilang "mbok kamu tu kayak Kak Cemeti itu lho.  Rajin,  sopan,  sabar dengan anak-anak dan selalu datang awal saat adzan berkumandang. "

Saat itu aku mulai mengintip dia.  Malu-malu aku mulai rajin ke Surau.  Dan hal itu menjadi kesempatan emas bagiku.  Aku mulai mengenalnya.  Dan banyak pengetahuan yang kudapat darinya.

Tidak lama aku mengenalnya. Tapi efek perkenalanku dengan dia sangat luar biasa.  Keinginanku untuk menimba ilmu mulai mengembang.

Dan aku bertekad setelah lulus MA aku mau mondok.

Sekarang,  lima tahun telah berlalu. Aku kembali hidup di kampung untuk mengamalkan ilmu. Dan anehnya,  dia yang kukenal sesingkat membalik telapak tangan itu kembali menghantui pikir.  Ada apa ini?  Dan parahnya,  aku menganggap dia sudah lama mengisi hariku.  Padahal kenal tiga bulan saja tidak genap.

Ah,  bagaimanapun dan siapapun dia sekarang,  aku ingin bertanya "apa kabarmu hari ini?"


Pelemgede,  130417

CINTA

"Mbak,  kamu tau cinta itu apa?"
" gak tau!! "
"kamu mah gitu.  Gak pernah tau apa itu cinta".
"yakali..  Kamu kira aku ini pujangga yang mesti tau cinta. Aku mah cukup seneng jadi bakul coklat,  yang tiap valentin para remaja beli coklat di sini.  Katanya buat pacarnya.  Tanda cinta gitu. Atau,  ada lagi.  Biasanya mereka beli coklat buat kado ulang tahu.  Lagi dan lagi,  katanya buat pacarnya.  Tanda cinta lagi. " bergaya ala pujangga.

Aku terbelalak mendengar jawaban Rumisih tetanggaku itu.  Ya,  Rumisih adalah pengusaha coklat yang beken seantero kampung.  Coklatnya lucu-lucu dan lumer kalo dimakan.  Tak heran banyak yang pesan.  Apalagi di hari-hari spesial layaknya yang diberitakan di tipi-tipi.

Tapi masak ya coklat. Coklat dan cinta.  Benarkah berhubungan?

Kalo kata guru mtsku, cinta adalah kejernihan jiwa.  Jika kamu melakukan sesuatu,  kamu ikhlas melakukannya.  Tanpa pamrih,  pun tanpa imbalan.  Ya,  semua itu karena cinta.

Tapi kalo kata emak,  cinta itu realita.  Bukan hanya untuk nafsu,  juga bukan karena uang.  Kalo yang ini sedikit rumit. Kenapa?  Saya sering melihat di tipi-tipi, berita-berita yang menyakitkan atau pembunuhan seringkali disebabkan uang.  Padahal mereka berumah tangga.  Apa itu berarti mereka tidak memiliki cinta?

Itulah kenapa saya bilang kalo kata Emak ini sedikit rumit. Ya,  rumit.  Karena kita harus bisa menyeimbangkan antara cinta dan juga realita yang ada. Tidak boleh semena-mena memperlakukan cinta.  Jadi,  ada atau tiada uang maka cinta harus dirawat dan dipupuk.  Karena bisa jadi dengan adanya cinta yang terawat maka semua akan mengikuti.
Ah,  aku ini malah ngelantur.

" Mbak Rum,  aku pulang dulu" segera aku beranjak dari hadapannya.
"eehhhh..  Lha iki pie coklatmu? "
"buat mbak Rumisih aja! "
" Lho pie tho.  Dasar bocah.  Cinta kok dipikir.  Cinta ki ya dilakoni.  Ora mung dipikir.  Wes lah,  karepmu.  Lumayan enthuk coklat.  Iso tak jual manih".


Pelemgede,  100417