"Mereka bukan wanita hebat. Mereka hanya wanita lemah yang bersimpuh tanah dan juga kotoran." Rina mulai bercerita. "Mereka hanya menengadahkan tangan ke suami. Gak pernah bisa mentisihkan uang barang sepersen untuk ditabung." Rina menambahi. Wajahnya begitu muram, seakan jijik mengingat pengalamannya.
Satu bulan yang lalu aku dan Rina mengikuti penelitian yang diadakan oleh jurusan Antropologi di Kabupaten Pati. Tepatnya di kecamatan Pucakwangi. Tema yang diangkat tentang kebudayaan dan dibagi menjadi beberapa judul.
Kebetulan Rina berfokus dengan judul tentang mata pencaharian warga setempat. Sedangkan aku berfokus dengan judul pemanfaatan waktu luang. Kami ditempatkan di desa Lumbungmas. Penelitian ini memberi pengalaman yang luar biasa untuk kami, terlebih bagi Rina yang nota benenya adalah orang kota dan anak dari pasangan pegawai negeri sipil.
Kecamatan Pucakwangi berada di pinggiran Pati. Berbatasan dengan kabupaten Blora. Para penduduk disana kebanyakan memiliki mata pencaharian sebagai petani. Sebagian adalah tukang dan atau pekerja serabutan. Sebagian kecil adalah berwiraswasta dan sebagai pegawai negeri sipil (PNS).
Para wanita di kecamatan Pucakwangi banyak yang mendedikasikan dirinya sebagai ibu rumah tangga. Jika ada sebagian dari mereka yang bekerja, hal tersebut merupakan pilihan mereka masing-masing dengan berbagai alasan.
"Kenapa kamu berkata begitu, Rin? Tidak adakah pengalaman lain yang melekat di ingatanmu"? Hatiku tersengat dengan ucapan Rina. Aku, meski hanya satu bulan tinggal di kecamatan Pucakwangi, aku tidak setuju dengan pendapat Rina.
Bagaimana tidak? Mereka, para perempuan yang mendedikasikan sebagai ibu rumah tangga ternyata tugasnya begitu bejibun.
"Apakah salah, Nis?" Rina heran. "Apakah kamu tidak melihat. Para perempuan itu membersihkan kandang sapi, kandang kambing, bahkan ada pula sebagian mereka yang merumput dan menanam padi saat musim hujan." Rina menambahkan.
"Ya. Apakah salah"? tanyaku menyelidik.
"Tidak salah. Tapi kan kotor. " suara Rina dipelankan.
" Kotor katamu. Tapi kenapa kamu bilang mereka tidak hebat"? Tanyaku meninggi. Jelas saja aku tidak terima. Bagiku, mereka itu wanita hebat. Kebanyakan dari saudaraku juga ibu rumah tangga. Mereka tidak sungkan melakukan pekerjaan berat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanah, juga hewan. Karena semua itu adalah bagian dari kehidupan dan sebagai mata pencaharian yang mampu mengantarkan anak cucu mereka untuk selalu menjadi yang lebih baik.
Rina diam
" aku tidak ingin seperti mereka. " Rina tak bisa menjawab pertanyaanku.
" Ya, itu hakmu mau menjadi dan seperti apa. Tapi, kamu tidak berhak mencela pekerjaan orang lain. Bagaimanpun, tanpa mereka di dunia ini tak akan ada nasi enak. Tak akan ada anak petani yang menjadi pegawai, DPR, atau bahkan menteri. " aku mencari kata-kata yang bagus agar Rina bisa sadar bahwa mereka wanita hebat.
Aku teringat saat penelitian kemaren. Aku berkenalan dengan seorang ibu muda yang usianya tak beda jauh denganku. Ya, usianya 22 tahun. Namanya Sri. Anaknya umur dua tahun. Dia adalah seorang ibu rumah tangga. Tugasnya sangat luar biasa banyak. Dari bangun tidur hingga kembali tidur. Mencuci baju, menyetrika, memasak, membereskan rumah, merawat anak, mendidik anak, dan merawat orangtuanya yang sakit, Semua dia lakukan sendiri, tanpa ada libur. Bahkan, jika musim hujan datang dia mocok tandur demi mendapat tambahan penghasilan. Suaminya merantau ke Kalimantan, kerja di bangunan. Selain itu, Mbak Sri juga memiliki beberapa ekor kambing. Jadi, di pagi dan sore hari mbak Sri membersihkan kandamg kambing dan mencari daunan untuk makanan kambing di sore hari.
Ah, betapa luar biasanya mbak Sri dan perempuan desa yang lain. Bagaimana aku bisa mengatakan bahwa mereka tidak hebat? Mereka adalah wanita hebat dan luar biasa. Dan seperti kata Ibu yang rumahnya saya tempati saat penelitian, istri pak Kepala desa "bahwa sejatinya wanita hebat adalah mereka yang bisa melaksanakan tugasnya dengan penuh keikhlasan dan mengantarkan anak-anaknya untuk menyongsong masa depan dengan penuh keyakinan dan takwa kepada Illahi."
"Oiya, hari ini tanggal 21 April. Hari Kartini nih, Nis. Bagaimana kalau kita ketempat penelitian kita? Mereka pasti punya banyak cerita untuk kita. " Rina mengusulkan.
"Wah, ide bagus. Kita ajak yang lain juga yuk. " aku mengiyakan.
Kami beranjak dari kantin yang berada di Fakultasku. Kami bergandeng tangan dalam diam. Menyelami pikiran masing-masing tentang sejatinya wanita yang hebat.
Pelemgede, 210417
Satu bulan yang lalu aku dan Rina mengikuti penelitian yang diadakan oleh jurusan Antropologi di Kabupaten Pati. Tepatnya di kecamatan Pucakwangi. Tema yang diangkat tentang kebudayaan dan dibagi menjadi beberapa judul.
Kebetulan Rina berfokus dengan judul tentang mata pencaharian warga setempat. Sedangkan aku berfokus dengan judul pemanfaatan waktu luang. Kami ditempatkan di desa Lumbungmas. Penelitian ini memberi pengalaman yang luar biasa untuk kami, terlebih bagi Rina yang nota benenya adalah orang kota dan anak dari pasangan pegawai negeri sipil.
Kecamatan Pucakwangi berada di pinggiran Pati. Berbatasan dengan kabupaten Blora. Para penduduk disana kebanyakan memiliki mata pencaharian sebagai petani. Sebagian adalah tukang dan atau pekerja serabutan. Sebagian kecil adalah berwiraswasta dan sebagai pegawai negeri sipil (PNS).
Para wanita di kecamatan Pucakwangi banyak yang mendedikasikan dirinya sebagai ibu rumah tangga. Jika ada sebagian dari mereka yang bekerja, hal tersebut merupakan pilihan mereka masing-masing dengan berbagai alasan.
"Kenapa kamu berkata begitu, Rin? Tidak adakah pengalaman lain yang melekat di ingatanmu"? Hatiku tersengat dengan ucapan Rina. Aku, meski hanya satu bulan tinggal di kecamatan Pucakwangi, aku tidak setuju dengan pendapat Rina.
Bagaimana tidak? Mereka, para perempuan yang mendedikasikan sebagai ibu rumah tangga ternyata tugasnya begitu bejibun.
"Apakah salah, Nis?" Rina heran. "Apakah kamu tidak melihat. Para perempuan itu membersihkan kandang sapi, kandang kambing, bahkan ada pula sebagian mereka yang merumput dan menanam padi saat musim hujan." Rina menambahkan.
"Ya. Apakah salah"? tanyaku menyelidik.
"Tidak salah. Tapi kan kotor. " suara Rina dipelankan.
" Kotor katamu. Tapi kenapa kamu bilang mereka tidak hebat"? Tanyaku meninggi. Jelas saja aku tidak terima. Bagiku, mereka itu wanita hebat. Kebanyakan dari saudaraku juga ibu rumah tangga. Mereka tidak sungkan melakukan pekerjaan berat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanah, juga hewan. Karena semua itu adalah bagian dari kehidupan dan sebagai mata pencaharian yang mampu mengantarkan anak cucu mereka untuk selalu menjadi yang lebih baik.
Rina diam
" aku tidak ingin seperti mereka. " Rina tak bisa menjawab pertanyaanku.
" Ya, itu hakmu mau menjadi dan seperti apa. Tapi, kamu tidak berhak mencela pekerjaan orang lain. Bagaimanpun, tanpa mereka di dunia ini tak akan ada nasi enak. Tak akan ada anak petani yang menjadi pegawai, DPR, atau bahkan menteri. " aku mencari kata-kata yang bagus agar Rina bisa sadar bahwa mereka wanita hebat.
Aku teringat saat penelitian kemaren. Aku berkenalan dengan seorang ibu muda yang usianya tak beda jauh denganku. Ya, usianya 22 tahun. Namanya Sri. Anaknya umur dua tahun. Dia adalah seorang ibu rumah tangga. Tugasnya sangat luar biasa banyak. Dari bangun tidur hingga kembali tidur. Mencuci baju, menyetrika, memasak, membereskan rumah, merawat anak, mendidik anak, dan merawat orangtuanya yang sakit, Semua dia lakukan sendiri, tanpa ada libur. Bahkan, jika musim hujan datang dia mocok tandur demi mendapat tambahan penghasilan. Suaminya merantau ke Kalimantan, kerja di bangunan. Selain itu, Mbak Sri juga memiliki beberapa ekor kambing. Jadi, di pagi dan sore hari mbak Sri membersihkan kandamg kambing dan mencari daunan untuk makanan kambing di sore hari.
Ah, betapa luar biasanya mbak Sri dan perempuan desa yang lain. Bagaimana aku bisa mengatakan bahwa mereka tidak hebat? Mereka adalah wanita hebat dan luar biasa. Dan seperti kata Ibu yang rumahnya saya tempati saat penelitian, istri pak Kepala desa "bahwa sejatinya wanita hebat adalah mereka yang bisa melaksanakan tugasnya dengan penuh keikhlasan dan mengantarkan anak-anaknya untuk menyongsong masa depan dengan penuh keyakinan dan takwa kepada Illahi."
"Oiya, hari ini tanggal 21 April. Hari Kartini nih, Nis. Bagaimana kalau kita ketempat penelitian kita? Mereka pasti punya banyak cerita untuk kita. " Rina mengusulkan.
"Wah, ide bagus. Kita ajak yang lain juga yuk. " aku mengiyakan.
Kami beranjak dari kantin yang berada di Fakultasku. Kami bergandeng tangan dalam diam. Menyelami pikiran masing-masing tentang sejatinya wanita yang hebat.
Pelemgede, 210417