Paini. Usianya 45 tahun. Orangnya gempal dan berambut pendek. Jangan tanya bagaimana warna kulitnya. Yang pasti hitam namun tidak legam. Bisa dibilang standar untuk warna kulit orang desa yang setiap harinya berkutat di sawah.
Orangnya selalu tersenyum dan ceria. Tak pernah marah meski dimaki, bahkan oleh anak kecil sekalipun. Pasti! Paini adalah orang yang sabar dan diberi keistimewaan oleh Sang Pencipta.
Dulu, saat aku masih kecil. Dia selalu duduk diemperan rumah, melihat kami yang asik bermain. Sesekali Paini ikut dalam permainan kami. Namun sayang, Paini tak bisa mengikuti permainan kami yang terbilang sederhana seperti main petak umpet, bekelan, atau tekongan. Akhirnya, Paini memilih menjadi penonton.
Saat aku dan kawan-kawan main kacang-kacangan, Paini mendekat dan menonton. Sepertinya Paini ingin sekali mengikuti permainan tersebut, namun Paini selalu mengelak ketika kami menawarinya.
"Ayo, giliran kamu Bek... " ucapku menyodorkan kacang bagianku.
"Emoh emoh... Aku ora iso. " katanya sambil tergelak.
"Lhah, kok emoh... " Aku pura-pura kecewa.
"Iya e, Bek Paini ki. Padahal iso ngitung lho. Age, nko tak warai. " timpal Mini teman mainku.
"Wes, kowe wae seng main. Aku tak nonton. " jawabnya. Lagi-lagi sambil tertawa.
"Yaweslah.. " jawabku dan Mini bersamaan.
Kami melanjutkan permainan. Paini menikmati guyonan yang kami lontarkan sembari tersenyum sendiri. Aku tak tau apa yang ada didalam pikirnya.
#Part1
Orangnya selalu tersenyum dan ceria. Tak pernah marah meski dimaki, bahkan oleh anak kecil sekalipun. Pasti! Paini adalah orang yang sabar dan diberi keistimewaan oleh Sang Pencipta.
Dulu, saat aku masih kecil. Dia selalu duduk diemperan rumah, melihat kami yang asik bermain. Sesekali Paini ikut dalam permainan kami. Namun sayang, Paini tak bisa mengikuti permainan kami yang terbilang sederhana seperti main petak umpet, bekelan, atau tekongan. Akhirnya, Paini memilih menjadi penonton.
Saat aku dan kawan-kawan main kacang-kacangan, Paini mendekat dan menonton. Sepertinya Paini ingin sekali mengikuti permainan tersebut, namun Paini selalu mengelak ketika kami menawarinya.
"Ayo, giliran kamu Bek... " ucapku menyodorkan kacang bagianku.
"Emoh emoh... Aku ora iso. " katanya sambil tergelak.
"Lhah, kok emoh... " Aku pura-pura kecewa.
"Iya e, Bek Paini ki. Padahal iso ngitung lho. Age, nko tak warai. " timpal Mini teman mainku.
"Wes, kowe wae seng main. Aku tak nonton. " jawabnya. Lagi-lagi sambil tertawa.
"Yaweslah.. " jawabku dan Mini bersamaan.
Kami melanjutkan permainan. Paini menikmati guyonan yang kami lontarkan sembari tersenyum sendiri. Aku tak tau apa yang ada didalam pikirnya.
#Part1
Kira-kira apa yavyang ada dalam benak Bek Paini?
BalasHapus#penasaran ^^