“Innamal mu’minuuna ikhwatun faashlihu baina akhowaikum, wattaqullaha la’allakum turhamuun.”
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah saudara. Sebab damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu. Dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat(Q.S. Al-Hujurat; 49:10)"
Sore itu, saat menjelang magrib saya sempatkan membaca ayat Al-quran. Saat itu saya membaca surat Al-Hujurat. Kata demi kata dalam ayat yang terkandung di Alquran saya lantunkan, sembari sesekali saya baca terjemahannya untuk memahami makna yang terkandung di dalam ayat tersebut.
Saya begitu menikmati. Hingga tiba di ayat kesepuluh mata saya terhenti. Ayat tersebut menampar hati saya, mengingatkan diri ini untuk muhasabah.
Ya, muhasabah. Saya harus melucuti pikiran dan juga hati ini yang tak seorangpun tahu apa isinya kecuali saya dan Dia.
Saya sadar, saya hanyalah manusia biasa. Dari sini, sayapun mulai mengupas satu persatu apa yang saya rasa dan ataupun saya pendam. Sore itu saya buka dan jujur kepada diri saya sendiri. Dan keganjalan demi keganjalanpun saya temukan.
Lihat! Dibalik balutan cantik ini, saya pernah menyimpan rasa iri terhadap seseorang, saya pernah menyimpan rasa tak suka terhadap seseorang, saya pernah merasa benci dengan hewan yang suka mengganggu atau mengotori rumah. Bahkan, saya pernah menyimpan rasa jengkel kepada suami dan anak.
“Duh Gusti... rasa apa ini?” keluh batinku. “Tidakkah bisa saya menyempurnakan batinku agar mulia dan cantik secantik paras ini?”
Dari ayat di atas, saya menarik kesimpulan bahwa persaudaraan adalah rahmat. Dan jika ada persaudaraan yang rusak, bagi saya hal utama yang merusak adalah karena prasangka buruk yang dimiliki dari masing-masing pribadi manusia. Maka untuk memperbaiki hubungan antar manusia, hal utama yang dibutuhkan adalah ketulusan hati, kemuliaan rasa, tanpa prasangka dan tanpa kebencian.
Dari sini, kita akan memiliki bekal untuk bisa menjadi insan yang bersahabat. Kita juga bisa menjadi insan yang mau berdamai dengan diri kita sendiri dan orang lain, sekalipun orang tersebut pernah membuat kita jengkel.
Jika rasa benci menjalari hati dan pikiran kita, maka marilah kita bermuhasabah terlebih dahulu. Dan mari kita berbenah diri hingga kita bisa melakukan kebaikan dan menebarkan kebaikan. Karena hal baik bisa dilakukan dari diri kita sendiri, meskipun itu kecil.
Sayapun berdoa, “Ampunilah segala dosa saya dan dosa keluarga saya, dan jauhkanlah hati kami dari prasangka buruk.”
Akhirnya saya mengakhiri muhasabah di penghujung sore ini. Dan tilawah inipun harus saya akhiri karena adzan magrib telah berkumandang. Saya beranjak meletakkan mushaf dan melangkan kaki menuju surau terdekat untuk melakukan sholat magrib berjamaah.
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah saudara. Sebab damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu. Dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat(Q.S. Al-Hujurat; 49:10)"
Sore itu, saat menjelang magrib saya sempatkan membaca ayat Al-quran. Saat itu saya membaca surat Al-Hujurat. Kata demi kata dalam ayat yang terkandung di Alquran saya lantunkan, sembari sesekali saya baca terjemahannya untuk memahami makna yang terkandung di dalam ayat tersebut.
Saya begitu menikmati. Hingga tiba di ayat kesepuluh mata saya terhenti. Ayat tersebut menampar hati saya, mengingatkan diri ini untuk muhasabah.
Ya, muhasabah. Saya harus melucuti pikiran dan juga hati ini yang tak seorangpun tahu apa isinya kecuali saya dan Dia.
Saya sadar, saya hanyalah manusia biasa. Dari sini, sayapun mulai mengupas satu persatu apa yang saya rasa dan ataupun saya pendam. Sore itu saya buka dan jujur kepada diri saya sendiri. Dan keganjalan demi keganjalanpun saya temukan.
Lihat! Dibalik balutan cantik ini, saya pernah menyimpan rasa iri terhadap seseorang, saya pernah menyimpan rasa tak suka terhadap seseorang, saya pernah merasa benci dengan hewan yang suka mengganggu atau mengotori rumah. Bahkan, saya pernah menyimpan rasa jengkel kepada suami dan anak.
“Duh Gusti... rasa apa ini?” keluh batinku. “Tidakkah bisa saya menyempurnakan batinku agar mulia dan cantik secantik paras ini?”
Dari ayat di atas, saya menarik kesimpulan bahwa persaudaraan adalah rahmat. Dan jika ada persaudaraan yang rusak, bagi saya hal utama yang merusak adalah karena prasangka buruk yang dimiliki dari masing-masing pribadi manusia. Maka untuk memperbaiki hubungan antar manusia, hal utama yang dibutuhkan adalah ketulusan hati, kemuliaan rasa, tanpa prasangka dan tanpa kebencian.
Dari sini, kita akan memiliki bekal untuk bisa menjadi insan yang bersahabat. Kita juga bisa menjadi insan yang mau berdamai dengan diri kita sendiri dan orang lain, sekalipun orang tersebut pernah membuat kita jengkel.
Jika rasa benci menjalari hati dan pikiran kita, maka marilah kita bermuhasabah terlebih dahulu. Dan mari kita berbenah diri hingga kita bisa melakukan kebaikan dan menebarkan kebaikan. Karena hal baik bisa dilakukan dari diri kita sendiri, meskipun itu kecil.
Sayapun berdoa, “Ampunilah segala dosa saya dan dosa keluarga saya, dan jauhkanlah hati kami dari prasangka buruk.”
Akhirnya saya mengakhiri muhasabah di penghujung sore ini. Dan tilawah inipun harus saya akhiri karena adzan magrib telah berkumandang. Saya beranjak meletakkan mushaf dan melangkan kaki menuju surau terdekat untuk melakukan sholat magrib berjamaah.