Senin, 24 Juli 2017

Wanita dan Asa

Diam. Aku mulai memperhatikan sekitar. Menikmati sore yang indah tanpa ditemani secangkir kopi hitam. Aku di sini, di bawah rindangnya pohon yang tumbuh subur di belakang rumah. menikmati keindahan sore hari. Mengawasi aktivitas seorang janda tua bersama anak lelaki yang telah berumur.

Aku mulai gerah. Ingin sekali menyeret lelaki bertubuh ringkih itu keluar dari rumah kecilnya. Membuang si lelaki berkulit putih pucat itu ke pulau yang tak terjamah manusia. “Tapi, apa urusanku?” batinku mulai berkecamuk, ruang kepalaku dipenuhi oleh cacian tanpa henti. “Aku harus  mengenyahkan si lelaki itu.” ucapku meyakinkan pada diri sendiri. Aku bergegas, melempar sandal  hijau dan membiarkan kaki dekilku bertelanjang.

“Hei Ndhuk, mau kemana?” terdengar teriakan Emak dari balik dinding bambu.

“Sial! Emak selalu mengawasiku.” gerutuku. Aku mengurungkan niat. Kuambil kembali sandal, lalu pura-pura duduk sambil memainkan gundukan tanah di bawah kursi yang sudah usang. Aku tersenyum kepada Emak yang sudah melongokkan kepala di balik pintu bambu.

Lalu tenang. Emak menghembuskan nafas kelegaan, dan kembali khusuk dengan penggorengan. Kuintip Emak dari celah dinding bambu yang reot termakan usia. Emak begitu lincah memasukkan biji kopi yang dicampur beras dan potongan kelapa ke dalam wajan hitamnya. Tak selang beberapa lama, Emak meniup cerobong ke dalam tungku agar api tetap menyala. Dan aku bisa menebak bahwa Emak akan mengusap keringat di pelipisnya lalu duduk di samping tungku sambil menggoreng kopi. “Tepat!” desisku.

Sunyi.  Aku mulai bosan dengan rutinitas ini. Diam-diam, aku melangkahkan kaki keluar rumah. Tanpa suara, aku menyebrang menuju rumah kecil yang dihuni oleh Janda tua dan anak lelaki yang telah berumur. Aku terseok, sesekali aku terjatuh dalam kubangan jalan yang terjal. Dalam batinku, aku hanya ingin ke rumah janda tua, menemui lelaki yang telah berumur.

“Hei, ngapain kamu kesini? Pulanglah. Jika tidak, kamu pasti akan diseret paksa oleh Emakmu.” Lelaki berumur itu memutar roda kursi yang diduduki. Dia keluar rumah, entah untuk menyambut kedatanganku atau untuk mengusirku.

“Pulanglah, Tina. Jangan kesini. Aku tak ingin kau disiksa perempuan tua itu.” Dia mengingatkanku sambil menunjuk rumahku. Disana, terlihat Emak sudah berdiri dengan berkacak pinggang di ambang pintu rumah.

Tiba-tiba mataku memanas. Hatiku bagai teremas. Semua kejadian lima belas tahun silam terekam kembali dalam kepala. Aku ingin meredam semua, tapi nyatanya aku tak sanggup. Semua cerita bermunculan, semua kisah saling berebut untuk mencuat. Dan aku limbung di depan rumah dia. Hanya air mata yang berebut melewati pipi keriputku.

“Kamu tak pernah mendengarkanku, Tina.” Tiba-tiba Emak sudah mendekapku dari belakang. Emak menuntunku untuk pulang ke rumah kami yang sudah reot. Akupun mengikuti langkah Emak.

Sayup-sayup ku dengar teriakan lelaki itu dari arah belakang. “Maafkan aku, Tina.”

Aku menoleh ke belakang. Melepas tangan Emak yang menggandengku. Kubiarkan air mata ini turun dengan derasnya. Aku hanya berdiri mematung. Tersenyum dan mengabaikan ajakan Emak untuk pulang. Kali ini, aku menjadi lebih tegar, membiarkan kisah itu berkelebat dalam kepala.

Kutatap dia yang tersenyum di atas kursi roda yang menjadi tempatnya sejak empat belas tahun yang lalu karena kecelakaan. Dia melambaikan tangan agar aku maju mendekat. Tapi aku tak bergeming. Karena Emak mendekapku dengan erat, dan cerita masa lalu menari dengan elok. Perlahan, si Janda tua mendorong kursi roda itu untuk mendekatiku yang masih juga bergeming.

Dan kali ini, Emak membiarkan ku berdiri sendiri. Menemaniku dari belakang. Seakan memberiku kesempatan untuk meluruskan masalah antara aku dan lelaki itu. Masalah yang tak pernah terungkap sejak lima bela tahun yang lalu.

“Maafkan aku, Tina. Aku tak pernah selingkuh. Wanita itu hanya memfitnah agar keluarga kita hancur. Tragisnya,  orang tua kita sudah termakan omongan wanita itu. Dan kamu?” dia, si lelaki berumur membuka suara. Dan inilah pertama kali kami berhadapan secara langsung setelah kejadian lima belas tahun itu.

Aku tahu, Emak terlalu menyayangiku. Sehingga saat mendengar kabar tentang perselingkuhan mas Bimo, si lelaki berumur,  Emak langsung menyeretku pulang ke rumah reotnya. Emak tak pernah memberi kesempatan untuk kami bertemu walau sekejap. Sehingga tak pernah ada titik terang tentang kabar yang di desuskan oleh si wanita itu.

Dan kini, kami dapatkan kesempatan itu.  Untuk bertemu kembali,  meski hanya sekejap .  Aku tahu Emak menyesal telah mengurungku selama belasan tahun di rumah reot hingga rasa dan asakupun mati terkungkung.

Rabu, 19 Juli 2017

Jangan Salahkan Dia

"Dia selalu menjerumuskanku!! Merusak hariku,  menelantarkan rencana, dan juga agenda baruku." aku menjerit,  lalu melempar tas hello kitty kesayanganku begitu saja. Aku mondar-mandir di kamar pengap berukuran 3x4 m hingga kutemukan wajahku terpantul pada cermin kusam.  Kutatap wajahku lekat-lekat,  hingga tanpa sadar aku menamparnya.

"Kenapa kamu selalu menuruti bisikannya? Bodoh! " aku melotot pada wajah polos itu. Kejadian tadi pagi terulang dengan jelas dalam ingatan.  Saat mendengar suara adzan subuh,  aku tak segera bangun, tapi semakin terlelap dan membenamkan wajah ke dalam empuknya kapas yang terbungkus indah dalam balutan kain berwarna hijau.
 
"Lihat!  Gara-gara dia,  kamu ketinggalan kelas.  Dan terakhir,  kamu tidak diperbolehkan masuk kelas mengikuti pelajaran." gerutuku, masih kesal dengan wajah yang balik memelototiku.

"Key,  kok sudah pulang?  Bukannya hari ini ada kuliah Sintaksis ya?" tanya Rena teman satu kosku.

"Aku gak dibolehin masuk kelas sama Pak Haman,  Ren." aku geram.  Lalu mendekati Rena yang duduk di bibir tempat tidurku.

"Jangan sentuh dia!" ucapku tiba-tiba kepada Rena yang mendekap si ijo.
 
"Kenapa?" Rena kaget,  lalu meletakkan si ijo ke tempat semula.

"Semua ini gara-gara dia!" aku menatap nanar si ijo.

"What?" Rena tergelak. "Kamu yakin menyalahkan si Ijo ini?" tanya Rena meyakinkan sambil menggendong si Ijo.

"Lihat ini,  lihat!  Harusnya kamu berterimakasih pada si Ijo. Dia itu barang mati yang baik hati.  Tak pernah protes mau diperlakukan si empunya sebagai apa.  Kamu lupa?  Siapa yang menemani dan mendengarkan celotehmu di malam hari? Siapa yang mau menampung air mata dan ingus setelah kamu puas mengadu kepada Allah di malam hari?  Siapa yang siap menopang kepala baumu dikala kamu terlelap? Ijo!  Bukan yang lain!" Rena melemparkan si Ijo ke wajahku,  lalu meninggalkan aku yang mencoba menangkap si Ijo.

Akupun mulai tersadar,  tak seharusnya aku menyalahkan Si Ijo yang telah menjadi teman tidur setiaku.

Dokumen pribadi